Phaeophyta (Alga Coklat)

Phaeophyta atau alga coklat umumnya merupakan bentuk yang kompleks dibandingkan dengan alga lainnya. Jenis-jenis yang uniseluler tidak ditemukan. Tumbuhan ini memiliki ukuran beberapa millimeter sampai 70 meter. Saprofit maupun gametofit yang telah dewasa mempunyai bentuk tertentu, mengalami deferensiasi menjadi bagian yang tegak dan alat pelekat (holdfast).

Ciri-ciri Phaeophyta sebagai berikut.

a). Pigmentasi
Alga coklat mempunyai klorofil a dan c, alfa dan beta karoten dan beberapa flavosantin dan leutin. Xantofil (fukosantin dan violaksantin) dalam jumlah banyak sehingga menyebabkan warna coklat sampai hijau kecoklatan. Pigmen terletak dalam plastid dengan tilakoid.

b). Cadangan makanan
Berupa laminarin, manitol, dan lemak. Pada beberapa jenis mengandung algin dan asam alginate sebagai komponen penyusun dinding selnya.

c). Motilitas
Alga coklat tidak ada yang uniseluler. Sel-sel reproduktif baik zoospora maupun gamet yang mempunuyai flagella yang umumnya terdapat pada bagian lateral yang tidak sama panjang. Flagel pada bagian anterior yang lebih panjang memiliki tipe tinsel dan pada bagian yang posterior lebih pendek memiliki tipe whiplash.

d). Dinding sel
Dinding sel menghasilkan asam alginat, banyak terdapat pada tipe-tipe yang disebut “kelp” dan “fukoid”. Asam alginate memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Biasanya digunakan sebagai stabilizer produk-produk komersial lainnya seperti produk “rumput laut” yang dapat dimakan.

Alga coklat banyak ditemukan pada habitat air laut dan hanya tiga jenis yang terdapat pada air tawar. Yang hidup di air laut terutama terdapat di daerah yang beriklim dingin dan tidak banyak yang terdapat di daerah tropik. Tumbuhan baik pada daerah litoral atau daerah pasang surut, tetapi tipe kelp terdapat pada perairan sublitoral. Jenis-jenis Sargasum dan Turbinaria terdapat di daerah tropik dan subtropik.

Smith (1955) membagi divisi Phaeophyta menjadi 3 kelas sebagai berikut.

a). Kelas Isogeneratae
Daur hidupnya menunjukkan pergantian yang isomorf.Contohnya bangsa Ectocarpales, dan Dictyotales

b). Kelas Heterogeneratae
Daur hidupnya menunjukkan pergantian yang heteromorf. Contohnya bangsa  Laminariales, dan Desmarestiales.

b). Kelas Cyclosporae
Tidak menunjukkan adanya pergantian keturunan, hanya mempunyai keturunan yang diploid saja. Contohnya bangsa Fucales.

Di Indonesia terdapat delapan marga alga coklat yang ditemukan yaitu sebagai berikut.

1). Cystoseira sp yang hidup menempel pada batu di daerah rataan terumbu karang dengan alat pelekatnya yang berbentuk cakram kecil. Alga ini mengelompok bersama-sama dengan komunitas Sargasum dan Turbinaria. Alat ini memiliki dua atau tiga sayap longitudinal dengan pinggiran bergerigi. Terdapat kantung udara kecil di sepanjang thallus. Pada gambar 2.10 disajikan gambar Cystoseira ericoides.

2). Dictyopteris sp yang hidup melekat pada batu di pinggir luar rataan terumbu, jarang dijumpai.

3). Dictyota (D. bartayresiana), tumbuh menempel pada batu karang mati di daerah rataan terumbu. Warnanya coklat tua dan mempunyai thallus bercabang yang terbagi dua. Thallus yang pipih dan lebarnya 2 mm, tersusun atas tiga lapis sel. Lapisan tengah yang terdiri dari sel yang besar diapit oleh dua lapisan atas dan bawah yang terdiri dari sel yang sangat kecil. Alga ini mempunyai bagian berbentuk silindrik yang menyerap dan mempunyai alat perekat dalam bentuk sebundel benang-benang yang bentuknya seperti rambut. Thallusnya menghasilkan cabang lateral yang dapat lepas untuk membentuk alga baru yang bebas dalam perkembangbiakan vegetatif.

4). Hormophysa (H. triquesa), hidup menempel pada batu dengan alat perekat berbentuk cakram kecil. Alga ini hidupnya bercampur dengan Sargasum dan Turbinaria dan hidup pada rataan terumbu.

5). Hydroclathrus (H. clatratus), tumbuh melekat pada batu atau pasir di daerah rataan terumbu dan sebarannya sangat luas di Indonesia.

 6). Padina (P. australis), sinonimnya P. gymnospora, tumbuh menempel di batu pada daerah rataan terumbu, baik di tempet terbuka di laut maupun di tempat terlindung. Padina commersonii adalah alga coklat yang banyak dijumpai di bawah paras pasang surut. Alat perlekatannya yang melekat pada batu atau pasir terdiri dari cakram pipih, biasanya terbagi menjadi cuping-cuping pipih 5-8 cm lebarnya. Tangkai yang pendek dan pipih menghubungkan alat pelekatnya dengan ujung yang meruncing dari selusin daun berbentuk kipas atau lebih.

Setiap daun mempunyai jari-jari 5 cm, dan pinggirannya berakhir dengan suatu meristem, di tempat itu kerap terjadi pertumbuhan dan khas menggulung ke dalam untuk perlindungan yang lebih baik. Setiap daun ditandai oleh satu seri sabuk-sabuk sepusat (konsentrik), yang merupakan deretan-deretan sel. Daun yang lebih lebar biasanya membelah ke dalam sepanjang jari-jari. Daunnya berwarna coklat kekuningan, tetapi dapat kelihatan keabu-abuan disebabkan karena adanya kerak terdiri dari lapisan tipis kapur pada bagian atasnya.

7). Sargasum terdapat teramat melimpah mulai dari air surut pada pasang surut setengah ke bawah. Alga ini hidup pada batu atau bongkahan karang dan dapat terbedol dari substratnya selama ombak besar menghanyutkannya ke permukaan laut atau terdampar di bagian atas pantai. Warnanya bermacam-macam dari coklat muda sampai coklat tua. Alat pelekatnya terdiri dari cakram pipih. Dari cakram ini muncul tungkai yang pendek silindrik yang tegak. Dari tangkai yang pendek ini muncul poros-poros silidrik panjang. Masing-masing poros ini dapat mencapai 1 m panjangnya di daerah bawah litoral dimana Sargasum hidup. Pada poros yang silindris dengan diameter 3 mm terdapat bentuk-bentuk seperti daun, kantong udara, dan cabang-cabang perkembangbiakan.

8). Turbinaria terdiri dari tiga jenis yang tercatat, T. connoides, T. decurrens, dan T.ornate. Mereka mempunyai cabang-cabang silindrik dengan diameter 2-3 mm dan mempunyai cabang lateral pendek dari 1-1,5 cm panjangnya. Ini berakhir pada sebuah reseptakel dengan pinggiran bergerigi dan garis tengahnya kira-kira 1 cm. Alga ini terdapat di pantai berbatu dan paparan terumbu.

Sumber :
Romimohtarto, Kasijan dan Sri Juwana. 2001. Biologi Laut: Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Jakarta: Djambatan


Tulisan terkait