Pengaruh Berbagai Faktor Lingkungan Laut Terhadap Makrobentos

Lingkungan laut selalu berubah secara dinamik. Kadang-kadang perubahan ini berlangsung dalam waktu yang relatif cepat maupun lambat. Cepat atau lambatnya perubahan ini sama-sama mempunyai pengaruh, yakni kedua sifat perubahan tersebut akan mengubah intensitas faktor-faktor lingkungan. Perubahan apaun yang terjadi akan baik bagi suatu kehidupan dan buruk bagi kehidupan yang lain. Karena terus berubahnya lingkungan, maka makhluk hidupun selalu berubah.

Gerakan Air
Gerakan air laut ini sangat penting bagi berbagai kehidupan di laut baik itu biologis maupun non biologis. Gerakan air laut ini meliputi pasang surut, arus dan gerak gelombang.

a). Pasang Surut
Pasang surut adalah naik dan turunnya permukaan laut secara periodik selama suatu interval waktu tertentu. Pengaruh pasang surut yang paling jelas terhadap organisme dan komunitas daerah litoral yang menyebabkan terkena udara terbuka secara periodik dengan kisaran parameter fisik cukup besar.

Lamanya terkena udara terbuka merupakan hal yang paling penting karena pada saat itulah organisme laut akan berada dalam kisaran suhu terbesar dan memungkinkan mengalami kekeringan (kehilangan air). Semakin lama terkena udara, semakin besar kehilangan air diluar batas kemampuan dan semakin kecil kesempatan untuk mencari makan dan mengakibatkan kekurangan energi.


b). Arus
Arus laut permukaan merupakan pencerminan langsung dari pola angin yang bertiup pada waktu itu. Jadi arus permukaan ini digerakan oleh angin dan begitupun arus dibawahnya ikut terbawa. Arus dilapisi oleh permukaan laut berbelok ke kanan dari arah angin dan arus dilapisan bawahnya akan berbelok lebih ke kanan lagi dari arah arus permukaan.

Hal ini disebabkan adanya gaya cariolis (Cariolis Force), yaitu gaya yang diakibatkan oleh perputaran bumi. Jika terjadi divergensi atau pembuyaran arus permukaan maka akan terjadi upwelling, yakni naik massa air dari lapisan bawah laut kelapisan permukaan dan jika terjadi konvergensi atau pemusatan arus permukaan, maka akan menyebabkan downwelling, yakni turunnya massa air dari lapisan atas kelapisan bawah.


c). Gerak Gelombang
Gerakan gelombang mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap organisme dan komunitas dibandingkan dengan daerah laut lainnya. Gelombang yang terhempas ke pantai akan melepaskan energinya di pantai. Makin tingginya gelombang, maka makin besar tenaganya memukul pantai.

Ada tiga faktor yang menentukan besarnya gelombang yang disebabkan oleh angin yakni kuatan hembusan, lamanya hembusan dan jarak tempuh angin. Jarak tempuh angin ialah bentangan air terbuka yang dilalui angin. Sekali gelombang telah terbentuk oleh angin maka gelombang itu akan terus merambat sampai jauh.



Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor yang amat penting bagi kehidupan organisme di lautan, karena suhu mempengaruhi baik aktivitas metabolisme maupun perkembangbiakan dari organisme-organisme tersebut. Suhu air permukaan diperairan Indonesia umumnya berkisar antara 28-31oC. Dilokasi dimana penaikan air (upwelling) terjadi, misalnya di Laut Banda, suhu air permukaan dapat turun sampai sekitar 25oC ini disebabkan karena air yang dingin pada lapisan bawah terangkat ke atas.

Suhu air didekat pantai biasanya sedikit lebih tinggi dari pada yang di lepas pantai. Pantai laguna yang dangkal atau cekungan air yang tertangkap ketika air surut, suhu air mencapai lebih dari 35oC. Air dengan densitas yang rendah akan berada dilapisan atas dan air dengan densitas tinggi akan berada pada lapisan bawah.


Salinitas
Perubahan salinitas yang dapat mempengaruhi organisme terjadi di daerah pasang surut melalui dua cara. Pertama, karena di daerah pasang surut terbuka pada saat pasang turun dan kemudian digenangi air atau aliran akibat hujan lebat, sebagai akibat salinitas akan turun.

Kedua, adanya hubungan dengan genangan pasang surut yaitu daerah yang menampung air laut ketika pasang turun. Daerah ini dapat di genangi oleh air tawar yang mengalir masuk ketika hujan deras sehingga menurunnya salinitas, atau dapat memperlihatkan kenaikan salinitas terjadi jika penguapan sangat tinggi terjadi pada siang hari.

Fluktuasi salinitas di perairan untuk makrobentos intertidal tidak menyebabkan peningkatan rata-rata metabolisme di atas tingkat normalnya, karena makrobentos termasuk jenis organisme laut yang dapat menyesuaikan diri dengan habitat atau lingkungan yang di tempatinya.


Intesitas Cahaya
Intesitas cahaya mempengaruhi pola sebaran organisme. Ada sebagian organisme yang menyukai cahaya dengan intesitas cahaya yang besar, namun ada juga organisme yang lebih menyukai cahaya yang redup. Pada bagian bawah laut, cahaya matahari mempunyai pengaruh besar secara tidak langsung, yakni sebagai sumber energi untuk fotosintesis tumbuh-tumbuhan air dan fitoplankton.


Faktor-faktor Lain
Faktor lainnya yang berpengaruh bermacam-macam meliputi pH, persaingan antar organisme dan pemangsaan. Persaingan terjadi karena masing-masing individu berusaha untuk mendapatkan nutrisi, sehingga mempengaruhi pola penyebaran individu, demikian pemangsaan oleh organisme lain berpengaruh terhadap penyebaran organisme di daerah pasang surut. Selain itu, substrat yang berbeda-beda yakni pasir, lumpur dan batu menyebabkan perbedaan fauna dan struktur komunitas di daerah intertidal.


Baca selengkapnya...

Adaptasi Organisme Intertidal (Zona Pasang Surut)

Dalam bidang ekologi, adaptasi berarti suatu proses evolusi yang menyebabkan organisme mampu hidup lebih baik dibawah kondisi lingkungan tertentu dan sifat genetik yang membuat organisme menjadi lebih mampu untuk bertahan hidup.

Bentuk adaptasi adalah mencakup adaptasi struktural, adaptasi fisiologi, dan adaptasi tingkah laku. Adaptasi struktural merupakan cara hidup untuk menyesuaikan dirinya dengan mengembangkan struktur tubuh atau alat-alat tubuh kearah yang lebih sesuai dengan keadaan lingkungan dan keperluan hidup.

Adaptasi fisiologi adalah cara makhluk untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan penyesuaian proses-proses fisiologis dalam tubuhnya. Adaptasi tingkah laku adalah respon-respon hewan terhadap kondisi lingkungan dalam bentuk perubahan tingkah laku.

Kehidupan di daerah pasang surut sangat dipengaruhi oleh faktor fisik baik berupa substrat dan yang lainnya. Adapun adaptasi yang dilakukan moluska jenis Makrobentos pada substrat daerah pasang surut berupa adaptasi struktural, adaptasi fisiologi, adaptasi tingkah laku. Ketiga adaptasi tersebut diuraikan sebagai berikut.

Adaptasi Morfologi
Adaptasi morfologi yaitu dengan menggali substrat sampai kedalaman yang tidak dapat lagi dipengaruhi oleh gelombang yang lewat. Strategi ini banyak dilakukan oleh kerang besar sperti Tivela stultorum, kerang pismo. Beberapa hewan juga biasanya melengkapi dirinya dengan mengembangkang cangkang yang sangat berat, yang dapat menahan hewan tetap berada dalam substrat.

Kesulitan dari tipe adaptasi ini adalah adanya badai kuat yang dapat menimbulkan gelombang besar yang dapat menghentak hewan ini keluar dan terlempar ke pantai. Hal ini yang menyebabkan kerusakan katastrofik yang kadang-kadang terjadi pada bentuk ini.


Adaptasi Fisiologi
Adaptasi fisiologi misalnya adaptasi mengenai masalah pencegahan penyumbatan permukaan alat pernafasan oleh pasir yang tersuspensi. Untuk mencegahnya, saluran masuk pernafasan pada kerang pantai pasir sering dilengkapi dengan berbagai penyaring yang mencegah pasir masuk kedalamnya.


Adaptasi Tingkah Laku
Adaptasi tingkah laku dikakukan dengan kemampuan menggali dengan cepat, segera setelah gelombang yang lewat memindahkan hewan dari substrat. Mekanisme ini pada umumnya dilakukan oleh Annelida, karang kecil dan Crustacea.

Misalnya pada kepiting pasir dari famili Hippidae, dimana hewan-hewan ini mempunyai tubuh yang pendek dengan anggota tubuh yang telah dimodifikasi untuk menggali pasir dengan cepat. Segera setelah mereka tertarik dari substrat oleh gelombang yang lewat, meraka menggali kembali sebelum gerakan air membawa mereka keluar.


Baca selengkapnya...

Makrobentos Dan Tipe Substrat Berlumpur

Tipe substrat dasar perairan pesisir ditentukan oleh arus dan gelombang.  Disamping itu juga oleh kelandaian (slope) pantai.  Pada daerah pesisir dengan kecepatan arus dan gelombang yang lemah, substrat cenderung berlumpur. Daerah ini biasa terdapat di daerah muara sungai, teluk atau pantai terbuka dengan kelandaian yang rendah. Sedangkan pada daerah pesisir yang mempunyai arus dan gelombang yang kuat disertai dengan pantai yang curam, maka substrat cenderung berpasir sampai berbatu. 

Perbedaan utama dengan wilayah pesisir dengan substrat berpasir adalah pantai berlumpur tidak dapat berkembang dengan hadirnya gerakan gelombang.  Oleh karena itu, daerah pesisir dengan pantai berlumpur hanya terbatas pada daerah intertidal yang benar-benar terlindung dari aktivitas gelombang laut terbuka. Pantai berlumpur dapat berkembang dengan baik jika ada suatu sumber partikel sedimen yang berbutiran halus.

Ukuran partikel yang sangat halus disertai sudut dasar sedimen yang amat datar menyebabkan air didalam sedimen tidak mengalir keluar dan tertahan didalam substrat. Pantai berlumpur cenderung untuk mengakumulasi bahan organik, sehingga cukup banyak makanan yang potensial bagi organisme  pantai ini. Namun, berlimpahnya partikel organik yang halus yang mengendap didataran lumpur juga mempunyai kemampuan untuk menyumbat permukaan alat pernafasan.

Kebanyakan organisme yang menempati daerah berlumpur menunjukkan adaptasi dalam menggali dan melewati saluran yang permanen dalam substrat. Kehadiran organisme ditunjukkan oleh adanya berbagai lubang dipermukaan dengan ukuran dan bentuk yang berbeda. Ketika organisme berada di dalam substrat, mereka harus beradaptasi untuk hidup dalam keadaan anaerobik atau harus membuat beberapa jalan yang dapat mengalirkan air dari permukaan yang mengadung oksigen ke bawah. Makrobentos memiliki penyebaran yang lebih luas karena mampu beradaptasi dengan air tawar maupun air laut dengan tekstur sedimen lunak dan keras.


Baca selengkapnya...

Ekologi Intertidal (Pasang Surut)

Zona intertidal (pasang surut) merupakan daerah terkecil dari semua daerah yang terdapat di samudra dunia, dan merupakan pinggiran yang sempit sekali (hanya beberapa puluh meter) terletak diantara pasang tertingi dan surut terendah.

Susunan faktor-faktor lingkungan dan kisaran yang dijumpai di zona intertidal sebagian disebabkan zona ini berada di udara terbuka selama waktu tertentu dalam setahun. Kebanyakan faktor fisiknya menunjukkan kisaran yang lebih besar di udara daripada di air.

Keragaman faktor lingkungannya dapat dilihat dari perbedaan (gradient). Faktor lingkungan secara fisik mempengaruhi terbentuknya tipe atau karakteristik komunitas biota serta habitatnya. Sebagian besar gradien ekologi dapat terlihat pada wilayah intertidal yang dapat berupa daerah pantai berpasir, pantai berlumpur maupun pantai berbatu.

Perbedaan pada seluruh tipe pantai ini dapat dipahami melalui parameter fisika dan biologi lingkungan yang dipusatkan pada perubahan utamanya serta hubungan antara komponen abiotik (parameter fisika-kimia lingkungan) dan komponen biotik (seluruh komponen makhluk atau organisme) yang berasosiasi di dalamnya. Secara umum daerah intertidal sangat dipengaruhi oleh pola pasang dan surutnya air laut, sehingga dapat dibagi menjadi tiga zona. 

Zona pertama merupakan daerah di atas pasang tertinggi dari garis laut yang hanya mendapatkan siraman air laut dari hempasan riak gelombang dan ombak yang menerpa daerah tersebut backshore (supratidal), zona kedua merupakan batas antara surut terendah dan pasang tertinggi dari garis permukaan laut (intertidal) dan zona ketiga adalah batas bawah dari surut terendah garis permukaan laut (subtidal).

Sebagai akibat adanya perubahan kondisi pasang dan kondisi surut air laut dan akibat aktifitas ombak pantai, menyebabkan kondisi fisik pantai akan selalu berubah baik secara temporal maupun secara spasial. Perubahan secara temporal membuat kondisi fisik pantai akan berbeda dalam rentangan waktu jam, hari, bulan maupun tahun. Perubahan secara spasial membuat kondisi fisik pantai dapat berbeda-beda pada berbagai tempat sekalipun jaraknya cukup berdekatan.


Baca selengkapnya...

Makrobentos Daerah Tropis

Makrobentos merupakan salah satu kelompok fauna yang memegang peranan penting di zona intertidal pesisir pantai tropis. Komunitas makrobentos tersusun dari spesies yang secara relatif memiliki umur panjang, dan secara temporal dapat menyatu dengan berbagai jenis fluktuasi lingkungan.

Komunitas makrobentos merupakan komponen yang penting bagi ekosistem estuaria. Organisme ini meregulasi kondisi fisik dan kimiawi pada permukaan sedimen air, meningkatkan dekomposisi bahan organik, mendaur ulang nutrisi untuk proses fotosintesis, dan transfer energi melalui komponen jaring-jaring makanan.

Beberapa spesies bivalvia (Donax) yang berada pada zona pasang surut melakukan migrasi ke atas dan ke bawah mengikuti pasang surut air laut sesuai dengan kemiringan pantai. Donax berasosiasi dengan beberapa makrobentos kecil, seperti Terebra, dan Polichaeta kecil (Sigalion, Urothoe, Spio). Di atas garis pantai, kepiting dari berbagai genera (Cardisoma, Gecarcinus, Coenobita) terkadang dapat dijumpai mencari makan.

Perbandingan komposisi phyletic dari biota bentos pada garis lintang yang tinggi dengan garis lintang yang lebih rendah menggambarkan bahwa lebih banyak organisme epifauna pada komunitas bentik tropis dibandingkan dengan daerah dengan garis lintang yang lebih tinggi.


Baca selengkapnya...

Definisi Makrobentos

Makrobentos adalah hewan invertebrata yang dapat dilihat dengan mata telanjang dan hidup pada, di dalam, dan sekitar bebatuan di dasar perairan. Disamping itu, makrobentos juga didefinisikan sebagai hewan invertebrata, hidup di dalam atau pada sedimen atau substrat lain, berukuran besar dan dapat dilihat dengan mata telanjang, dan tertahan pada ayakan standar U.S. No. 30 (mess 0.595 mm).

Makrobentos juga sering didefinisikan bentos yang ukurannya cukup besar untuk tertahan pada ayakan dengan ukuran pori-pori 500 mikrometer (0,5mm). Makrobentos merupakan bentos yang berukuran lebih dari 1mm yang biasanya berupa siput, kepiting, tiram air tawar, kerang, dan termasuk larva serangga.

Berdasarkan jenis makanannya zoobentos (termasuk makrobentos) dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu: filter feeder dan deposit feeder. Filter feeder atau suspension feeder adalah bentos pemakan material yang tersuspensi di dalam air, baik berupa zat organik maupun plankton dengan cara menyaring; yang termasuk ke dalam filter feeder adalah bivalvia, sponge, ascidians, dan cacing kipas. Hewan-hewan ini menggunakan cilia untuk menciptakan arus air sehingga memudahkan makanan untuk masuk ke dalam alat penyaring yang mereka miliki.

Kebanyakan filter feeder mengubur diri di dalam sedimen dan menonjolkan organ pencari makan di permukaan sedimen. Sedangkan yang dimaksud deposit feeder adalah bentos pemakan material organik yang terjebak di dalam sedimen baik berupa detritus maupun material organik yang lebih halus.

Bentos pemakan deposit langsung memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Deposit feeder biasanya merayap dan masuk ke dalam sedimen sambil mengaduk sedimen untuk mendapatkan makanan. Hewan-hewan yang termasuk ke dalam deposit feeder adalah seluruh cacing polychaeta, gastropoda, teripang, crustacean.


Baca selengkapnya...

Pengaruh Berbagai Faktor Lingkungan Terhadap Kehidupan Benthos

Keberadaan hewan benthos pada suatu perairan, sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik.  Faktor biotik yang berpengaruh terhadap kehidupan benthos diantaranya adalah fitoplankton sebagai produsen yang merupakan salah satu sumber makanan utama bagi hewan benthos.

Adapun faktor abiotik yang berpengaruh terhadap kehidupan benthos adalah kondisi fisika-kimia air yang diantaranya: suhu, arus, pasang surut, oksigen terlarut (DO), kebutuhan oksigen biologi (BOD) dan kimia (COD), kandungan nitrogen (N), kedalaman air, dan substrat dasar.

Suhu merupakan fungsi dari intensitas energi panas. Suhu perairan sangat berpengaruh pada suhu tubuh benthos. Kenaikan suhu akan menyebabkan kenaikan metabolisme benthos, sehingga kebutuhan oksigen terlarut menjadi meningkat.

Kenaikan suhu perairan 10 °C akan meningkatkan kecepatan metabolisme 2 kali lipat. Perubahan suhu dapat mempengaruhi perubahan komposisi hewan benthos pada suatu perairan atau mempengaruhi kelimpahan dan keanekaragamannya baik cepat ataupun dengan perlahan.

Arus merupakan faktor yang membatasi penyebaran organisme benthos di suatu perairan.  Pergerakan arus merupakan hal yang penting di perairan dangkal subtidal. Pengaruh arus membuat partikel dan nutrien bersirkulasi sehingga tercukupi sumber makanan bagi biota yang hidup di perairan tersebut termasuk benthos.

Arus yang kecil menyebabkan benthos jarang ditemui terhempas di pantai. Sehingga secara ekologi, arus laut yang lebih kecil menunjang kelangsungan hidup benthos dan memudahkan penelitian identifikasi benthos.

Derajat keasaman (pH) digunakan untuk menggambarkan kondisi asam dan basa suatu lingkungan. Selain berpengaruh langsung terhadap organisme benthos di perairan, pH juga berpengaruh secara tidak langsung, melalui daya racun dari bahan pencemar. Setiap jenis benthos atau organisme perairan lainnya mempunyai toleransi yang berbeda-beda terhadap nilai pH.

Namun pada umumnya biota air dapat hidup layak pada kisaran pH 5 – 9. Jika perairan mengalami perubahan yang mendadak sehingga nilai pH melampaui kisaran tersebut, akan mengakibatkan tekanan fisiologis biota yang hidup di dalamnya dan berakhir dengan kematian.

Kedalaman perairan mempengaruhi jumlah dan jenis hewan benthos. Secara teori dikatakan bahwa perbedaan variasi dari jumlah spesies antara kedalaman 0,2 – 4 m adalah kecil. Secara tidak langsung kecerahan perairan juga akan mempengaruhi komunitas benthos di perairan.

Interaksi antara kekeruhan dengan kedalaman akan mempengaruhi penetrasi cahaya matahari sehingga produktifitas mikroalga bentik yang merupakan salah satu sumber makanan hewan benthos akan terganggu.

Komposisi hewan benthos tergantung pada sumber makanan yang tersedia. Perairan yang keruh dapat mempengaruhi keberadaan populasi hewan benthos, karena partikel tersuspensi dapat mengganggu sistem pernafasan pada insang akibatnya akan menggangu pertumbuhannya.
           
Keadaan substrat dasar juga sangat berpengaruh terhadap keberadaan benthos pada suatu perairan. Substrat dasar yang dimaksud adalah tekstur dasar perairan tempat benthos melekat. Subtrat berpasir tidak menyediakan tempat yang stabil bagi organisme karena aksi gelombang secara terus menerus menggerakkan pertikel subtrat.

Tekstur dasar sangat dipengaruhi oleh kecepatan arus, apabila arus di tempat tersebut kuat maka partikel yang berukuran besar akan mengendap lebih dahulu. Sebaliknya apabila arusnya lemah maka partikel yang berukuran kecil yang akan banyak dijumpai di daerah tersebut.

Salinitas akan mepengaruhi penyebaran benthos karena organisme laut hanya dapat beradaptasi terhadap perubahan yang kecil dan lambat. Adaptasi terkait salinitas umumnya menyangkut kemampuannya dalam merubah tekanan  osmotik di dalam tubuh benthos agar sesuai dengan lingkungannya.

Fluktuasi salinitas di perairan dapat menyebabkan peningkatan rata-rata metabolisme di atas tingkat normalnya. Untuk dapat hidup normal hewan bentos harus berada pada rentangan salinitas antara 25 - 40‰.

Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun sedimen yang berasal dari sisa-sisa makluk hidup. Keberadaan bahan organik diperlukan secara langsung maupun tidak langsung oleh benthos. Penggunaan secara langsung misalnya bahan organik diperlukan benthos sebagai bahan makanan.

Pemanfaatan secara tidak langsung misalnya benthos memakan fitoplankton yang tergantung pada bahan organik untuk pembuatan makanan sendiri. Sumber penting bahan organik dilautan berasal dari muara sungai. Sebagian lagi berasal dari lautan itu sendiri.


Baca selengkapnya...

Pengertian Tentang Benthos

Hewan benthos yang relatif mudah diidentifikasi dan peka terhadap perubahan lingkungan perairan adalah jenis-jenis yang termasuk dalam kelompok invertebrata makro. Kelompok ini lebih dikenal dengan benthos makroskopis.

Benthos makroskopis mempunyai peranan yang sangat penting dalam siklus nutrien di dasar perairan.  Dalam ekosistem perairan, benthos makroskopis berperan sebagai salah satu mata rantai penghubung dalam aliran energi dan siklus dari alga planktonik sampai konsumen tingkat tinggi. 

Keberadaan hewan bentos pada suatu perairan, sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik.  Faktor biotik yang berpengaruh diantaranya adalah produsen, yang merupakan salah satu sumber makanan bagi hewan bentos.  Adapun faktor abiotik adalah fisika-kimia air yang diantaranya: suhu, arus, oksigen terlarut (DO), kebutuhan oksigen biologi (BOD) dan kimia (COD), serta kandungan nitrogen (N), kedalaman air, dan substrat dasar.

Sebagian atau seluruh siklus hidup benthos berada di dasar perairan, baik yang sesil, merayap maupun menggali lubang. Hewan ini memegang beberapa peran penting dalam perairan seperti dalam proses dekomposisi dan mineralisasi material organik yang memasuki perairan serta menduduki beberapa tingkatan trofik dalam rantai makanan.

Benthos membantu mempercepat proses dekomposisi materi organik.  Hewan bentos, terutama yang bersifat herbivor dan detritivor, dapat menghancurkan makrofit akuatik yang hidup maupun yang mati dan serasah yang masuk ke dalam perairan menjadi potongan-potongan yang lebih kecil, sehingga mempermudah mikroba untuk menguraikannya menjadi nutrien bagi produsen perairan.

Berdasarkan ukurannya, benthos dapat digolongkan ke dalam kelompok benthos mikroskopik atau mikrozoobenthos dan benthos makroskopik yang disebut juga dengan makrozoobenthos. Benthos makroskopis dapat mencapai ukuran tubuh sekurang-kurangnya 3 - 5 mm pada saat pertumbuhan maksimum.  Benthos makroskopis dapat ditahan dengan saringan No.  30 Standar Amerika.  Benthos makroskopis juga merupakan organisme yang tertahan pada saringan yang berukuran besar dan sama dengan 200 sampai 500 mikrometer.

Berdasarkan keberadaannya di dasar perairan, maka makrozoobenthos yang hidupnya merayap di permukaan dasar perairan disebut dengan epifauna, seperti Crustacea dan larva serangga.  Sedangkan makrozoobenthos yang hidup pada substrat lunak di dalam lumpur disebut dengan infauna, misalnya Bivalve dan Polychaeta.

Organisme yang termasuk benthos makroskopis diantaranya adalah: Crustacea, Isopoda, Decapoda, Oligochaeta, Mollusca, Nematoda dan Annelida. Taksa-taksa tersebut mempunyai fungsi yang sangat penting di dalam komunitas perairan karena sebagian dari padanya menempati tingkatan trofik kedua ataupun ketiga.  Sedangkan sebagian yang lain mempunyai peranan yang penting di dalam proses mineralisasi dan pendaurulangan bahan-bahan organik, baik yang berasal dari perairan maupun dari daratan.

Sebagai organisme dasar perairan, bentos mempunyai habitat yang relatif tetap. Dengan sifatnya yang demikian, perubahan-perubahan kualitas air dan substrat tempat hidupnya sangat mempengaruhi komposisi maupun kelimpahannya. Komposisi maupun kelimpahan makrozoobenthos bergantung pada toleransi atau sensitivitasnya terhadap perubahan lingkungan.  Setiap komunitas memberikan respon terhadap perubahan kualitas habitat dengan cara penyesuaian diri pada struktur komunitas. Dalam lingkungan yang relatif stabil, komposisi dan kelimpahan benthos makroskopis relatif tetap.  


Baca selengkapnya...

Konsep Plankton Dan Zooplankton

Plankton adalah kelompok organisme yang hidup melayang-layang di dalam air / kelompok biota laut, selain bentos dan nekton, mempunyai daya renang yang sangat lemah, artinya mereka tidak dapat melawan arus.

Plankton terbagi menjadi dua golongan utama yaitu fitoplankton yang merupakan plankton dari golongan tumbuhan mikroskopis dan zooplankton yang merupakan plankton dari golongan hewan yang hidup di laut dan sangat beraneka ragam, dimana terdiri dari bermacam bentuk larva dan bentuk dewasa yang dimiliki hampir seluruh filum hewan.

Ukuran plankton sangat beraneka ragam, dari yang terkecil, yang disebut ultra plankton berukuran 60-70 mikron, yang terlalu kecil untuk dikumpulkan dengan jaring plankton biasa dan hanya dapat dikumpulkan dengan cara dikumpulkan dengan cara mengambil sejumlah besar air laut.

Plankton terkadang ditemukan terapung di permukaan air, di dasar, ataupun melayang-layang memenuhi kolom air. Plankton ini ada yang bergerak aktif seperti hewan pada umumnya, tetapi ada pula yang bisa melakukan assimilasi (photosynthesis) seperti halnya tumbuhan di daratan.

Zooplankton merupakan plankton hewani yang menjadi konsumen utama fitoplankton. Selanjutnya dinyatakan meskipun jumlah, jenis, dan kepadatannya lebih rendah dari fitoplankton, zooplankton membentuk kelompok yang lebih beranekaragam. Setidak-tidaknya ada sembilan filum yang mewakili kelompok zooplankton ini dan ukurannya sangat beragam, dari yang sangat kecil atau renik sampai yang garis tengahnya lebih dari 1 mikron.

Zooplankton dapat diklasifikasikan berdasarkan lama hidupnya sebagai plankton. Yang pertama adalah holoplankton (plankton permanen) yakni organisme yang hidup sebagai plankton selama hidupnya. Yang kedua adalah meroplankton (plankton temporer) yakni organisme yang hidup sebagai plankton hanya sebagian dari siklus hidupnya, seperti selama masa telur atau fase larva.

Bagian terbesar dari zooplankton adalah anggota filum Arthropoda dan hampir semuanya termasuk kelas Crustacea. Selain Copepoda yang sangat dominan, dalam krustasea holoplanktonik juga terdapat anggota-anggota ordo Cladocera, subklas Ostracoda, ordo Mysidacea, ordo Amphipoda, ordo Euphausiacea, dan ordo Decapoda. Kebanyakan krustasea yang disebutkan ini adalah hewan-hewan holoplankton yang kecil.


Baca selengkapnya...