Interaksi Antara Tobacco Mosaic Virus Dengan Tanaman Tembakau

Virus tumbuhan sebagian besar mempunyai materi genetik RNA(ss-RNA). Kapsidnya umumnya berbentuk iksohedral/silindrikal. Virus tumbuhan dapat berpindah melalui perantara serangga, nematoda, fungi dan kontaminan dari mesin. Salah satu contoh virus yang inangnya tumbuhan adalah TMV (Tobacco mozaic virus).

Virus mosaik tembakau (Tobacco mosaic virus, TMV) adalah virus yang menyebabkan penyakit pada tembakau dan tumbuhan anggota suku terung-terungan (Solanaceae) lain. Gejala yang ditimbulkan adalah bercak-bercak kuning pada daun yang menyebar, seperti mosaik. TMV adalah virus pertama yang ditemukan orang.

Adolf Meyer (1883) menunjukkan pertama kali bahwa gejala mosaik ini dapat menular, seperti penyakit bakteri. Keberadaan adanya substansi non-bakteri pertama kali ditunjukkan oleh Dmitri Ivanovski, biologiwan Rusia, pada tahun 1892. Daun sehat yang diolesi ekstrak daun tembakau yang menunjukkan gejala mosaik dapat tertular. Ketika ekstrak itu disaring dengan saringan keramik yang sangat halus sehingga bakteri pun tidak dapat menembus dan dioleskan pada daun sehat, daun itu pun tetap tertular. Ivanovski berpendapat ada substansi super kecil yang bertanggung jawab atas gejala tersebut.

Virus mosaik tembakau merupakan virus yang pertama kali divisualisasikan dengan mikroskop elektron. Virus ini menginfeksi tanaman dan berkembang biak dalam jasad inang. Ketika Tembakau Mosaic Virus menulari tanaman tembakau, virus memasuki mekanis (Misalnya melalui dinding sel tumbuhan pecah) dan bereplikasi. TMV menulari tanaman tembakau secara mekanis melalui dinding sel yang pecah, lalu berreplikasi. Virus yang telah berreplikasi tersebut menyebar ke sel tetangga melalui plasmodesmata. TMV menghasilkan protein yang disebut P30, protein ini akan memperbesar plasmodesmata dan virus tersebut akan bergerak dari sel ke sel sebagai suatu kompleks RNA.

Gejala pertama yang terlihat adalah terdapat warna hijau muda pada urat-urat daun muda. Diikuti oleh adanya “mosaik” atau bintik-bintik terang dan gelap pada daun. Gejala ini berkembang cepat pada daun muda. Virus ini menginfeksi pada awal musim sehingga pertumbuhan tanaman terhambat. Selain TMV, virus mozaik juga ditemukan pada tomat, mentimun, dan lada. Selain TMV, virus tungro juga merupakan virus pada tumbuhan. Virus spesifik ini menyerang padi dan mengakibatkan tanaman padi mengerdil sehingga produktivitas menurun.

Virus dapat bertahan dan bersifat infektif selama beberapa tahun. Virus bersifat sangat stabil dan mudah ditularkan dari benih ke pembibitan pada saat pengelolaan tanaman secara mekanis misalnya pada saat pemindahan bibit ke pertanaman. Gejala Serangan daun tanaman yang terserang menjadi berwarna belang hijau muda sampai hijau tua. Ukuran daun relatif lebih kecil dibandingkan dengan ukuran daun normal. Jika menyerang tanaman muda, pertumbuhan tanaman terhambat dan akhirnya kerdil. Virus ini mampu menular secara mekanis yakni melalui tangan manusia saat memetik daun tembakau, perasan air daun tembakau yang terjangkit dan melalui pembibitan…….....................dst)


Baca selengkapnya...

Tanya Jawab Mengenai HIV/AIDS

Di bawah ini ada beberapa pertanyaan yang sering membayangi kita seputar HIV/AIDS yang mungkin berguna bagi pembaca sekalian.

1). Mengapa penularan HIV paling mudah pada pria homoseksual?
Faktor risiko seksual yang paling besar untuk infeksi HIV adalah hubungan seks reseptif/pasif anal. Hal ini disebabkan karena mukosa rektum lebih tipis daripada mukosa vagina, hingga mudah terjadi luka. Melalui luka ini HIV yang berada dalam semen (sperma) masuk ke dalam aliran darah. Selain pria homoseksual, pada wanita heteroseksual yang melakukan hubungan seks anal, insidens infeksi HIV dua kali lebih tinggi daripada yang tidak melakukan hubungan seks anal.

Pada pria homoseksual yang melakukan hubungan seks insertif/aktif anal, risiko infeksi HIV lebih kecil daripada yang reseptif/pasif anal. Pada mereka penularan HIV terjadi karena HIV yang berada dalam darah yang keluar dari luka-luka di rektum, masuk tubuh melalui uretra yang meradang karena penyakit menular seksual, atau melalui lesi pada penis.

2). Apakah seorang lesbian bisa ketularan HIV?
Seorang lesbian bisa ketularan HIV, karena suntikan obat bius intravena dengan jarum sumac yang dipakai bergantian dengan orang lain. Penularan selanjutnya ke partner lesbiannya terjadi, bila partnernya melakukan cunnilingus (hubungan seks oro-genital). Selain cunnilingus lesbian juga melakukan masturbasi bersama, kadang-kadang dengan alat permainan seks, yang dapat menyebabkan perdarahan dan penularan HIV.

3). Apakah HIV dapat ditularkan melalui ciuman mulut dengan mulut?
Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa HIV lebih jarang ditemukan dalam saliva daripada dalam darah. Selain itu eksperimen-eksperimen lain menunjukkan, bahwa saliva mengandung zat-zat yang menginaktivasi HIV in vitro. Sampai sekarang belum terbukti, bahwa ciuman mulut dengan mulut dapat menularkan HIV. Walaupun demikian, deep kissing dengan kemungkinan perdarahan kecil akibat gigitan, sebaiknya tidak dilakukan, karena teoretis mengandung risiko penularan.

4). Apakah HIV dapat ditularkan melalui nyamuk?
Nyamuk tidak menularkan HIV karena :
a) HIV tidak berkembang biak dalam sel nyamuk
b) HIV tidak bermigrasi dari usus ke kelenjar liur nyamuk
c) Jumlah darah dan jumlah HIV yang dihisap nyamuk terlalu sedikit.

Diperkirakan bahwa untuk menimbulkan infeksi HIV diperlukan paling sedikit 0,1 ml darah.
Bukti epidemiologis bahwa nyamuk tidak menularkan HIV, ialah :

a) Distribusi umur dan jenis kelamin dari orang-orang yang terinfeksi HIV di Afrika khas untuk penyakit menular seksual. Bila nyamuk menularkan HIV, insidens pada anak dan orang tua akan sama atau lebih tinggi dari pada orang-orang yang berumur 20-40 tahun.

b) Orang-orang yang hidup serumah dengan seorang yang terinfeksi HIV tidak terinfeksi, kecuali suami/isteri atau anak dari ibu yang terinfeksi HIV.

5). Gejala-gejala apa yang mencurigakan AIDS?
Pertama-tama perlu diingat bahwa kasus-kasus AIDS terutama ditemukan pada orang-orang dari kelompok risiko tinggi, yaitu pria homo dan biseksual, pecandu obat bius intravena yang menggunakan jarum/alat suntik secara bergantian, penderita hemofilia yang sering mendapat transfuse faktor VIII dan IX, penerima transfusi darah atau komponen darah, wanita dan pria tuna susila, orang heteroseksual dengan banyak mitra seksual, partner seksual dari orang-orang tersebut di atas dan anak yang dilahirkan oleh ibu yang terinfeksi HIV.

Pada orang dewasa AIDS dapat diduga bila terdapat paling sedikit dua gejala mayor dan paling sedikit satu gejala minor, tanpa sebab imunosupresi lain yang diketahui, seperti kanker, malnutrisi atau penyebab lain.

Gejala mayor  AIDS :
a. penurunan berat badan lebih dari 10%
b. demam lebih dari satu bulan (intenmiten atau kontinu)
c. diare kronik lebih dari satu bulan.

Gejala minor AIDS :
a. batuk lebih dari satu bulan
b. dermatitis pruritik generalisata
c. herpes zoster rekuren
d. kandidiasis orofaring
e. herpes simplex diseminata yang kronik, progresif
f. limfadenopati generalisata

Terdapatnya sarkoma Kaposi generalisata atau meningitis cryptococcus saja sudah cukup untuk diagnosis AIDS. Diagnosis kemudian perlu dikonfirmasi dengan tes ELISA dan Western Blot.

6). Mengapa sampai sekarang belum ada vaksin untuk infeksi HIV?
Usaha untuk membuat vaksin yang efektif terhadap HIV mengalami beberapa kesulitan.

a) Sampai sekarang belum ditemukan komponen virus yang merangsang imunitas yang protektif pada manusia.

b) Tidak ada binatang percobaan untuk menyelidiki infeksi HIV dan AIDS. Chimpanzee binatang satu-satunya yang dapat ditulari oleh HIV. Pada binatang ini terjadi infeksi khronis dan respons imun yang mirip dengan yang terjadi pada manusia, tetapi tidak terjadi penyakit AIDS.

Oleh karena itu chimpanzee dapat dipakai sebagai model untuk mengembangkan vaksin yang mencegah infeksi HIV, tetapi tidak dapat dievaluasi apakah vaksin ini dapat mencegah penyakit AIDS pada orang yang sudah terinfeksi. Selain itu kesulitan untuk mendapatkan binatang ini dan biaya, perawatan yang tinggi menyebabkan binatang ini kurang ideal.

c) Evaluasi efektivitas suatu vaksin mempunyai beberapa kesukaran, yaitu :

1). Tidak ada indikator dari imunitas protektif, karena tidak ada korelasi antara pembentukan atau menurunnya imunitas dan permulaan atau progresi penyakit.

2). Lamanya waktu antara permulaan infeksi HIV dan tim timbulnya gejala-gejala penyakit AIDS.

3). Karena kelompok vaksin maupun kelompok plasebo diinstruksikan untuk mencegah infeksi HIV, waktu yang diperlukan untuk membuktikan efektivitas vaksin akan lama.

Disadur Dari : Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992

Baca selengkapnya...

Pencegahan HIV/AIDS

Sesuai dengan sifat dan cara penularan AIDS itu sendiri, maka pencegahan AIDS relatif mudah, yaitu menghindari pemakaian jarum suntik secara tidak semestinya dan menghindari hubungan seks yang berisiko tinggi.

Pencegahan penularan AIDS melalui jarum suntik di jalur profesi kedokteran dapat dilaksanakan dengan peningkatan profesionalisme setiap dokter dan paramedik. Sedangkan pencegahan AIDS melalui jalur penyalahgunaan narkotika cukup dilaksanakan melalui program penanggulangan narkotika yang di Indonsia sudah dikoordinasikan langsung oleh Badan Koordinasi Penanggulangan Narkotika (Bakorlantik).

Pencegahan AIDS melalui jalur seks, pada hakikatnya juga tidak sukar, karena asasnya tidak berbeda dengan ajaran norma agama yang diyakini masyarakat, yaitu bahwa seks yang aman dari AIDS adalah seks dengan pasangan tunggal yang setia (seks monogami). Akan tetapi pengawasan dan pengendalian bidang seks ini jauh lebih sulit daripada dalam bidang penyalahgunaan narkotika.

Karena itu lebih banyak diperlukan penyuluhan agar orang tetap melakukan seks yang sehat walaupun menyimpang dari asas monogami tersebut (memakai kondom, hanya berhubungan dengan orang yang diketahui kesehatannya, memeriksakan diri ke dokter, mengikuti nasihat dokter dan sebagainya). Usaha itu bukan usaha khusus untuk AIDS, melainkan bisa juga ditujukan untuk setiap jenis PMS (Penyakit Menular Seksual) yang lain, sebab setiap pencegahan PMS dengan sendirinya akan mencegah AIDS.

Dalam kampanye anti PMS ini mungkin diperlukan bantuan berbagai tenaga ahli: psikolog, sosial, ahli komunikasi massa, ahli sosiologi, antropolog, ahli kesehatan masyarakat, para pendidik, ulama dan para ahli di bidang ilmu kedokteran sendiri. Adapun sasarannya adalah setiap anggota masyarakat yang diduga secara seksual telah aktif (termasuk remaja), khususnya yang tergolong kelompok-kelompok risiko tinggi.

Disadur Dari : Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992

Baca selengkapnya...

Penularan HIV/AIDS

Penularan HIV/AIDS terjadi melalui :

1). Hubungan kelamin (homo maupun heteroseksual).

2). Penerimaan darah dan produk darah.

3). Penerimaan organ, jaringan atau sperma

4). Ibu kepada bayinya (selama atau sesudah kehamilan).

Kemungkinan penularan HIV/AIDS melalui hubungan kelamin menjadi lebih besar bila terdapat penyakit kelamin, khususnya yang menyebabkan luka atau ulserasi pada alat kelamin. HIV telah diisolasi dari darah, sperma, air liur, air mata, air susu ibu, dan air seni, tapi yang terbukti berperan dalam penularan hanyalah darah dan sperma.

Hingga saat ini juga tidak terdapat bukti bahwa AIDS dapat ditularkan melalui udara, minuman, makanan, kolam renang atau kontak biasa (casual) dalam keluarga, sekolah atau tempat kerja. Juga peranan serangga dalam penularan AIDS tidak dapat dibuktikan. Risiko bagi petugas kesehatan untuk mendapat AIDS adalah sangat kecil. Tata kerja yang dilaksanakan untuk mencegah infeksi pada umumnya, misalnya terhadap hepatitis B adalah lebih dari cukup untuk menghindari penularan AIDS. Terhadap kemungkinan infeksi dari darah dan beberapa cairan tubuh lainnya perlu dilakukan universal precautions.

Disadur Dari : Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992

Baca selengkapnya...

Tentang Virus HIV/AIDS

Penyebab AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah suatu retrovirus yang sejak tahun 1986 disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV) atas rekomendasi dari International Committee on Toxonomy of Viruses. Nama ini mengganti llama lama, yaitu Lymphadenopathy Associated Virus (LAV) yang diberikan oleh L. Montagnier dan Institut Pasteur di Paris dan Human T-Lymphocyte Virus Type III (HTLV-III) yang diberikan oleh R. Gallo dari US National Cancer Institute.

Bila masuk ke dalam tubuh, HIV akan menyerang sel darah putih, yakni limfosit T4 yang mempunyai peranan penting sebagai pengatur sistem imunitas. HIV mengadakan ikatan dengan CD4 receptor yang terdapat pada permukaan limfosit T4. Kini diketahui bahwa virus ini juga dapat langsung merusak sel-sel tubuh lainnya yang mempunyai CD4 a.l. sel glia yang terdapat di otak, makrofag dan sel Langerhans di kulit, saluran pencemaan dan saluran pernapasan.

Suatu enzim, reverse transcriptase mengubah bahan genetik virus (RNA) menjadi DNA yang bisa berintegrasi dengan sel dari hospes. Selanjutnya sel yang berkembang biak akan mengandung bahan genetik virus. Infeksi oleh HIV dengan demikian menjadi irreversibel dan berlangsung seumur hidup.

Di Afrika Barat dan Eropa Barat telah ditemukan pula suatu retrovirus lain, yakni HIV-2 yang juga dapat menyebabkan AIDS. Virus ini mempunyai perbedaan cukup banyak dengan HIV-1, batik genetik maupun antigenetik, sehingga tidak bisa dideteksi dengan tes serologik yang biasa dipakai. HIV-2 ter- nyata mempunyai banyak persamaan dengan SIV (Simian Immunodeficiency Virus) yang terdapat pada kera, termasuk kera Macacus di Indonesia dan kera hijau Afrika. Ditemukannya HIV-2 akan mempersulit penanggulangan AIDS karena mempunyai implikasi untuk diagnostik, staining donor dan pengembangan vaksin.

Disadur Dari : Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992

Baca selengkapnya...

Vaksin HIV (Human Immunodeficiency Virus) Eksperimental

HIV merupakan anggota familia retrovirus yaitu virus berselubung yang mempunyai ensim reverse transcriptase, enzim yang mampu mensintesis kopi DNA dari genom RNA. Bagian paling infeksius dari virus HIV adalah selubung glikoprotein gp 120 (BM 120.000 kd) dan gp 41 (BM 41.000 kd) yang sangat berperan pada ikatan HIV dengan sel hospes pada proses infeksi.

Mekanisme utama infeksi HIV adalah melalui perlekatan selubung glikoprotein virus (gp 120) pada molekul CD4, yang merupakan reseptor permukaan dengan afinitas paling tinggi terhadap selubung virus tersebut. Partikel virus HIV yang telah berikatan kemudian masuk ke dalam sel hospes melalui fusi antara membran virus dengan membran sel hospes dengan bantuan gp 41, yang terdapat pada permukaan membran virus.

Meskipun belum ditemukan vaksin HIV yang benar-benar efektif dan aman untuk manusia, namun beberapa tipe vaksin HIV telah diuji secara eksperimental, di antaranya; vaksin utuh yang diinaktivasi, virus rekombinan hidup, virus yang dilemahkan, peptida sintetik dan antibodi anti idiotip.

1). Virus utuh yang diinaktivasi
Inaktivasi virus HIV tipe I dan SIV (Simian Immunodeficiency Virus) dilakukan dengan radiasi dan menambahkan formaldehid. Prosedurnya sama dengan vaksin polio yaitu inaktivitasi genon retrovirus dan melepaskan gp 120 dari selubung virus HIV tipe I dan SIV non infeksius tersebut digunakan sebagai vaksin, dan telah dilakukan uji fase I pada tahun 1988-1989.

2). Selubung glikoprotein yang diklon
Beberapa peneliti telah melakukan teknologi rekayasa genetika untuk mengklon gen gp 120 atau gen gp 160 untuk menghasilkan sejumlah besar gp 120 dan gp 160 yang digunakan untuk imunisasi. Vaksin dari klon gp 160 yang pertama telah diuji pada bulan September 1987 pada 140 sukarelawan seronegatif yang sehat, dan ternyata antibodi yang ditimbulkan dapat menghambat replikasi virus secara in vitro, akan tetapi hambatan ini bersifat spesifik terhadap strain virus yang digunakan.

Uji klinis fase I vaksin gp 120 hasil rekayasa genetika dilakukan pada tahun 1993. Satu keterbatasan vaksin ini adalah merupakan glikoprotein terlarut yang diproses sebagai antigen eksogen, oleh karena itu tidak cukup merangsang respon sel T sitotoksik (sel T CD8+). Untuk merangsang sel T sitotoksik yang spesifik terhadap gp 120 atau gp 160, maka antigen harus diproses dan dipresentasikan oleh molekul MHC kelas I.

3). Virus yang dilemahkan
Vaksin virus yang dilemahkan dibuat dengan menumbuhkan virus hidup pada kondisi kultur yang tidak biasa, sehingga merangsang virus untuk bermutasi supaya tetap hidup pada kondisi yang baru. Kebanyakan vaksin virus yang digunakan saat ini adalah virus yang dilemahkan.

Karena virus ini hidup, maka dapat menginfeksi sel dan tumbuh dalam waktu yang terbatas sampai respon imun mampu menghilangkan virus tersebut. Vaksin virus yang dilemahkan cenderung menghasilkan respon sel memori yang baik yang akan memberikan imunitas jangka panjang.

4). Virus rekombinan yang membawa gen HIV
Vaksin vektor rekombinan merupakan pendekatan lain dalam upaya mendapatkan vaksin AIDS yang efektif. Virus vaccinia dan virus polio Sabin dapat direkayasa untuk membawa gen HIV tipe 1, sehingga virus tersebut kemudian dapat digunakan sebagai vaksin. Karena virus rekombinan ini dilemahkan dan tidak diinaktifkan, maka dapat menginfeksi sel hospes dan diharapkan dapat merangsang aktivitas sel T sitotoksik.

Seperti vaksin virus yang dilemahkan lainnya, paparan yang lama terhadap antigen virus cenderung merangsang respon imun yang baik tanpa perlu tambahan booster. Sejumlah gen HIV yang bisa direkayasa pada virus vaccinia adalah gen env, tat, pol dan gag.

5). Molekul CD4 yang diklon
Sejumlah laboratorium telah berhasil mengklon molekul CD4 dan menggunakan sebagai vaksin untuk menghambat infeksi HIV. Karena gp 120 berikatan dengan molekul CD4 dengan afinitas yang tinggi, maka diharapkan molekul CD4 terlarut ini dapat berikatan secara efektif dengan gp 120 HIV, sehingga dapat menghambat ikatan virus dengan sel hospes. Percobaan secara in vitro menunjukkan bahwa molekul CD4 terlarut selain dapat menghambat ikatan HIV dan infeksi sel limfosit T, juga menghambat pembentukan sinsitia (sel rekayasa multinuklear).

6). Antibodi anti-idiotip
Pendekatan vaksin yang sangat baik adalah dengan antibodi anti-idiotip yang bersifat spesifik terhadap antigen binding-site (paratop) dari antibodi anti HIV. Pendekatan ini dapat digunakan apabila vaksin virus yang dilemahkan atau dimatikan memberikan efek samping yang tidak diharapkan atau tidak dapat diatasi.

Apabila antibodi anti-idiotip ini diberikan pada hewan percobaan, maka hewan tersebut akan membuat antibodi terhadap bindingsite pada antibodi antiidiotip tersebut, yang disebut sebagai antibodi anti-idiotip yang dapat berikatan dengan antigen asal. Dengan demikian hewan percobaan tersebut menjadi kebal terhadap antigen tanpa
terpapar antigen, hanya terpapar antibodi anti-idiotip.

Vaksin yang diusulkan saat ini adalah kombinasi vaksin subunit yang berasal dari selubung virus HIV dan vaksin vektor rekombinan hidup. Kombinasi vaksin tersebut diharapkan dapat merangsang respon antibodi dan menimbulkan respon sel T sitotoksik (CTL). Pendekatan ini dikenal sebagai prime boost yaitu vektor rekombinan yang merangsang respon imunitas seluler awal dan vaksin subunit sebagai booster yang merangsang respon antibodi.

Di beberapa negara yaitu Amerika Serikat, Karibia dan Brasilia akan dilakukan uji fase III vaksin HIV, yaitu vaksin canarypox ALVAC dan gp 120 sebagai vaksin kombinasi. Vaksin rekombinan canarypox ALVAC mengandung gen, gag, env dan komponen protease yang mampu menimbulkan aktivitas CTL terhadap target isolat dan terhadap sel yang diinfeksi berbagai sub tipe HIV tipe 1. Tujuan uji fase III ini untuk mengetahui tingkat aktivitas CTL dan antibodi yang dicapai untuk mencegah infeksi HIV dan mengurangi penyakit.

Disadur Dari : Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001

Baca selengkapnya...

Kendala Pengembangan Vaksin HIV (Human Immunodeficiency Virus)

HIV merupakan anggota familia retrovirus yaitu virus berselubung yang mempunyai ensim reverse transcriptase, enzim yang mampu mensintesis kopi DNA dari genom RNA. Bagian paling infeksius dari virus HIV adalah selubung glikoprotein gp 120 (BM 120.000 kd) dan gp 41 (BM 41.000 kd) yang sangat berperan pada ikatan HIV dengan sel hospes pada proses infeksi.

Mekanisme utama infeksi HIV adalah melalui perlekatan selubung glikoprotein virus (gp 120) pada molekul CD4, yang merupakan reseptor permukaan dengan afinitas paling tinggi terhadap selubung virus tersebut. Partikel virus HIV yang telah berikatan kemudian masuk ke dalam sel hospes melalui fusi antara membran virus dengan membran sel hospes dengan bantuan gp 41, yang terdapat pada permukaan membran virus.

Salah satu upaya untuk mencegah infeksi HIV dan mengurangi penyakit adalah dengan mengembangkan vaksin yang efektif dan aman. Untuk itu diperlukan pengetahuan tentang beberapa hal yaitu : agen yang infeksius, karakterisasi respon imun terhadap agen tersebut dan determinasi apakah respon imun yang ditimbulkan tersebut cukup protektif. Selain itu vaksin yang dibuat harus dites pada hewan yang sesuai untuk memastikan bahwa vaksin tersebut aman.

Vaksin juga harus melalui tiga fase uji klinis pada manusia yaitu fase I dan II dilakukan untuk mengevaluasi keamanan, dosis dan imunogenitas vaksin, sedangkan fase III dilakukan untuk mengetahui efektivitas vaksin

Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengembangkan vaksin HIV, namun sampai saat ini belum ditemukan vaksin HIV yang benar-benar efektif dan aman. Kandidat vaksin HIV dari virus hidup yang dilemahkan belum memberikan hasil yang baik dan aman pada hewan percobaan, meskipun pada penyakit lain jenis vaksin tersebut memberikan hasil yang memuaskan. Pembuatan vaksin HIV dari virus yang dimatikan mengalami kesulitan terutama dalam menginaktivasi virus tersebut tanpa membuka selubung glikoprotein.

Beberapa kendala yang menghambat pengembangan vaksin HIV adalah :

1). Belum diketahuinya tipe respon imun yang protektif terhadap HIV apakah respon imun humoral atau seluler. Pada infeksi virus lainnya ternyata respon imun humoral mampu mencegah terjadinya infeksi. Oleh karena itu sebelum mekanisme imunitas protektif terhadap HIV diketahui dengan baik, para peneliti tidak memfokuskan penelitiannya pada satu tipe respon imun saja.

Diketahuinya daerah V3 pada gp 120 (protein permukaan virus) sebagai neutralizing domain mendorong pengembangan vaksin dari selubung virus rekombinan, dengan tujuan untuk merangsang antibodi yang mampu menetralisasi virus. Narnun sayangnya vaksin jenis ini cenderung menghasilkan antibodi yang spesifik terhadap strain virus yang digunakan.

2). Virus HIV selalu mengalami mutasi dan merubah glikoprotein permukaan untuk menghindari respon imun. Seperti halnya virus lain, perubahan antigen merupakan hambatan utama pengembangan vaksin HIV. Tantangan yang dihadapi para peneliti adalah mengembangkan vaksin tunggal atau yang efektif terhadap perubahan antigen pada strain virus HIV.

3). Transimisi seksual merupakan cara penularan virus HIV yang penting, oleh karena itu perlu dicegah penularan virustersebut melalui permukaan mukosa. Strategi pengembangan vaksin yang merangsang imunoglobulin A (IgA) anti HIV menjadi sangat penting untuk merangsang respon imun anti HIV yang protektif.

4). Tidak dijumpainya respon imun yang efektif terhadap virus HIV. Respon imun yang ditimbulkan dapat menekan virus, tetapi tidak dapat menghilangkan replikasi virus. Peredaran virus melalui jaringan limfoid dan adanya deplesi limfosit T CD4+ secara gradual menyebabkan ketidakmampuan surveilan respon imun.

5). Tidak adanya model hewan percobaan yang sesuai. Simpanse dan kera makaka merupakan model hewan alami untuk infeksi virus HIV tipe 1. Meskipun HIV dapat menyebabkan infeksi yang menetap pada simpanse tetapi tidak menyebabkan defisiensi imunitas.

Pengujian vaksin HIV pada simpanse hanya ditekankan pada adanya hambatan replikasi virus, daripada manifestasi imunodefisiensi. Berdasarkan beberapa peneliltian ternyata mencit yang dibuat imunodefisien (scid-human mice) terbukti dapat digunakan sebagai model hewan percobaan untuk mengetahui mekanisme imunosupresi pada AIDS, untuk evaluasi obat yang potensial dan untuk terapi vaksin.

Disadur Dari : Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001

Baca selengkapnya...

Peran Virus Dalam Kehidupan

Peranan virus dalam kehidupan manusia secara garis besar dibedakan menjadi dua, yaitu peran yang menguntungkan dan peran yang merugikan.

Peran Merugikan Virus Dalam Kehidupan
a). Pada Manusia : Virus ada yang bersifat merugikan sebab dapat menyebabkan penyakit pada manusia, antara lain penyebab penyakit cacar, penyakit poliomyelitis, penyakit influenza, penyakit campak, penyakit rabies, penyakit flu burung, paramyxovirus, penyebab penyakit gondong, dan penyakit AIDS.

b). Pada Hewan: virus juga dapat menimbulkan penyakit pada hewan, misal penyebab rabies pada anjing dan monyet, penyakit tetelo pada ayam, penyakit kuku dan mulut pada ternak (terutama sapi, kuda, dan kambing), dan penyakit cacar pada sapi.

c). Pada Tumbuhan: Virus dapat juga menyerang pada tumbuhan. Misalnya, menyerang tanaman tembakau, kentang, dan tomat; menyerang pada pembuluh tapis tanaman jeruk; menyebabkan tanaman padi kerdil.

Peran Menguntungkan Virus Dalam Kehidupan
a). Berperan dalam bioteknologi. Contoh Baculovirus dapat digunakan sebagai pestisida  biologis untuk membunuh serangga pada tanaman budidaya.

b). Berperan dalam pembuatan vaksin, yaitu virus dilemahkan terlebih dahulu kemudian dimasukkan kedalam tubuh yang berfungsi untuk membangkitkan atau meningkatkan kerja  sistem kekebalan tubuh.

Teknik Pembuatan Vaksin, ada beberapa teknik yang digunakan dalam produksi vaksin, antara lain :
a). Inaktivasi vaksin dengan menggunakan formalin (vaksin tifoid dan polio).

b). Menggunkan bagian tertentu dari antigen mikroorganisme penyebab penyakit untuk memicu respon imun.

c). Melemahkan mikroorganisme hidup dengan merekayasa kondisi pertumbuhannya.

d). Vaksin yang dibuat daru racun (toksin) yang sering disebut toksoid.

e). Menggunakan organisme yang hampir sama dengan virulen tetapi tidak menimbulkan gejala serius.

f). Teknik rekayasa genetika dilakukan dengan memanfaatkan gen dari mikroorganisme penyebab penyakit agar dapat menghasilkan antigen.


Baca selengkapnya...