Kajian Tentang Hemoglobin

Hemoglobin memiliki warna kuning kemerah-merahan jika berada dalam eritrosit (sel darah merah), warna ini akan bertambah merah jika di dalamya banyak terkandung oksigen. Fungsi hemoglobin adalah mengikat oksigen dari paru-paru untuk diedarkan ke seluruh jaringan tubuh dan mengikat karbon dioksida dari jaringan tubuh untuk dikeluarkan melalui paru-paru.

Hemoglobin yang telah bersenyawa dengan oksigen disebut oksihemoglobin. Setelah di jaringan oksigen akan dilepaskan. Selanjutnya Hb tadi akan mengikat dan bersenyawa dengan karbon dioksida dan disebut karbon dioksida hemoglobin (Hb-karbon dioksida) yang selanjutnya akan dilepaskan di paru-paru.

Hemoglobin yang yang keluar dari eritrosit yang telah mati akan terurai menjadi dua zat yaitu hematin yang mengandung Fe  yang berfungsi dalam pembuatan eritrosit baru dan heme yaitu suatu zat yang terdapat dalam eritrosit yang berguna untuk mengikat oksigen dan karbon dioksida.

Hemoglobin mampu terkonsentrasi dalam cairan sel eritrosit  (stroma) sampai sekitar 34 gram per 100 ml. Jika persentase sel-sel pada darah (hematokrit) normal, yaitu antara 40 – 45% dan jumlah Hb dalam tiap-tiap sel normal pula, maka darah seorang laki-laki rata-rata mengandung 16 gram Hb per 100 ml, sedangkan pada perempuan 14 gram per 100 ml.

Jumlah hemoglobin normal pada orang dewasa kira-kira 11,5-15 gram dalam 100 cc darah, dengan 11,5 mg% untuk Hb wanita dan Hb laki-laki 13,0 mg%. Berbeda menurut pendapat Wulangi (1994) rentangan nilai kadar Hb normal pada laki-laki berkisar antara 14 – 18 gr per100 ml, sedangkan untuk perempuan berkisar antara 12 – 15,5 gr per100 ml. Maka dari kategori di atas dapat dilihat bahwa  kadar hemoglobin pada laki-laki lebih tinggi secara umum jika dibandingkan dengan wanita.

Oleh karena hemoglobin berada di dalam eritrosit maka faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan eritrosit juga mempengaruhi faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan hemoglobin. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan hemoglobin adalah.

1). Faktor patologis seperti anemia ikut mempengaruhi pembentukan hemoglobin. Jika seseorang mengalami anemia maka kadar eritrosit dalam darahnya berkurang sehingga kadar hemoglobinnya pun akan ikut berkurang.

2). Fe merupakan inti molekul hemoglobin, kekurangan Fe menyebabkan menurunnya produksi hemoglobin.

3). Kekurangan Vitamin E mengakibatkan integritas sel darah merah menjadi lemah dan tidak normal sehingga sangat sensitif  terhadap hemolisis. Sehingga kadar hemoglobin pun akan ikut berkurang.   

4). Vitamin B6 sebagai kofaktor dalam pembentukan hemoglobin. Kekurangan Vit B6 menyebabkan kadar hemoglobin dalam eritrosit akan berkurang.

5). Protein dipergunakan sebagai bahan dasar hemoglobin  dan sel darah merah (sintesis ADN).

6). Vitamin B12 dan asam folat dibutuhkan untuk sintesis ADN dalam pembentukan eritrosit.

7). Eritropoeitin yang merupakan  hormon perangsang pembentukan eritrosit. Kadar oksigen di atmosfer yang rendah (pada dataran tinggi) menyebabkan pembentukan  Eritropoeitin meningkat sehingga kadar Hb juga akan meningkat.

Kadar hemoglobin dalam darah dapat diuji dengan  menggunakan kertas Talquis, Hemoglobin-Meter, maupun dengan menggunakan cara Sahli. Namun praktikum kali perhitungan kadar Hb dengan menggunakan cara Sahli tidak dapat dilakukan karena keterbatasan sarana dan prasarana yang ada. Data dari hasil perhitungan kertas Talquis masih berbentuk persentase akan tetapi data dari hasil perhitungan dengan menggunakan Hemoglobin-Meter sudah dalam bentuk satuan yaitu gr/ dl………..dst)


Baca selengkapnya...

Golongan Darah Manusia

Pada manusia terdapat dua golongan antigen yang lebih sering menyebabkan reaksi transfusi daripada golongan darah lain. Anti gen tersebut dinamakan sistem O- A-B dan sistem Rh-rh. Pada sistem O-A-B terdapat dua jenis aglutinogen, yaitu aglutinogen A dan aglutinogen B. Sedangkan dalam serum darah terdapat antibody (antiserum) aglutinin anti-A dan aglutinin anti-B. Jika aglutinin anti-A bercampur dengan aglutinogen A atau aglutinin anti-B dengan aglutinogen B maka akan terjadi reaksi penggumpalan (aglutinasi).

Berbeda halnya dengan sistem rhesus, jika seseorang yang memiliki golongan darah Rh- yang belum pernah terpapar oleh darah Rh+, transfusi dengan Rh+ tidak menimbulkan reaksi aglutinasi. Meskipun demikian pada tubuh orang tersebut terbentuk antibodi anti-Rh pada dua sampai empat minggu berikutnya, yang pada beberapa orang menimbulkan aglutinasi dari sel-sel yang ditransfusikan yang masih   terdapat di dalam darah. Sel-sel ini kemudian di hemolisis oleh sistem makrophag. Jadi terdapat reaksi transfusi yang lamban tetapi ringan.

Contoh lain dari sistem rhesus ini adalah peristiwa eritroblastopetalis yang disebabkan ibu yang memiliki Rh- dengan ayah bergolongan darah Rh+ mempunyai janin yang bergolongan darah Rh+ (diturunkan dari ayahnya). Karena fetus Ibu Rh+, maka Ibu membentuk aglutinin anti-Rh yang berdifusi ke tubuh janin  melalui plasenta, serta menimbalukan aglutinasi pada eritrosit fetus……….dst)


Baca selengkapnya...

Jenis-Jenis Pembuluh Darah

Arteri pulmonaris
Pembuluh ini membawa darah yang miskin oksigen dan kaya akan karbondioksida menuju paru-paru.

Arteri sistemik
Arteri sistemik membawa darah menuju arteriol dan kemudian ke pembuluh kapiler, di mana zat nutrisi dan gas ditukarkan.

Aorta
Aorta adalah pembuluh nadi terbesar dalam tubuh yang keluar dari ventrikel jantung dan membawa banyak oksigen.

Arteriol
Arteriol adalah pembuluh nadi terkecil yang berhubungan dengan pembuluh kapiler.

Pembuluh kapiler
Pembuluh ini bukan pembuluh nadi sesungguhnya. Di sinilah terjadinya pertukaran zat yang menjadi fungsi utama sistem sirkulasi. Pembuluh kapiler adalah pembuluh yang menghubungkan cabang-cabang pembuluh nadi dan cabang-cabang pembuluh balik yang terkecil dengan sel-sel tubuh. Pembuluh nadi dan pembuluh balik itu bercabang-cabang, dan ukuran cabang-cabang pembuluh itu semakin jauh dari jantung semakin kecil. Pembuluh kapiler sangat halus dan berdinding tipis.

Pembuluh balik atau vena
Pembuluh vena adalah pembuluh yang membawa darah menuju jantung. Darahnya banyak mengandung karbon dioksida. Umumnya terletak dekat permukaan tubuh dan tampak kebiru-biruan. Dinding pembuluhnya tipis dan tidak elastis. jika diraba, denyut jantungnya tidak terasa. Pembuluh vena mempunyai katup sepanjang pembuluhnya. Katup ini berfungsi agar darah tetap mengalir satu arah. Dengan adanya katup tersebut, aliran darah tetap mengalir menuju jantung. Jika vena terluka, darah tidak memancar tetapi merembes.


Baca selengkapnya...

Trombosit (Keping-Keping Darah)

Darah merupakan alat transportasi dalam tubuh manusia yang berfungsi mengangkut zat-zat makanan, gas pernapasan, hormon, dan sisa metabolisme yang ada dalam tubuh dari satu organ ke organ yang lain, atau dari satu bagian ke bagian tubuh yang lain.  Darah terdiri dari dua bagian, yaitu bagian cair yang disebut plasma (terdiri dari albumin, hormon, antibodi, bahan pembekuan darah, berbagai jenis garam dan protein), dan sel-sel darah (terdiri dari trombosit, eritrosit, dan leukosit). 

Trombosit adalah fragmen yang kecil berbentuk butir-butiran yang bila menempel satu sama lain langsung melekat dan membeku.  Trombosit dikelilingi oleh membran plasma yang tebal dari glikokaliks dan inuaginasi yang dalam dan membentuk kanalikuli. Sitoplasma tepi trombosit kaya mikrofilamen dan mikrotubul.  Trombosit mengandung granula tengah yang padat dengan seriotonin didalamnya dan granula alpha yang mengandung faktor bekuan dan berbagai enzim lisosum. 

Keping darah atau trombosit merupakan sel berbentuk cakram berukuran sekitar 1x3 mikron.  Sel-sel ini tidak mengandung inti tetapi mengandung mitokondria, organel sitoplasmik dan granula-granula yang khusus yang disebut granula padat.  Darah biasanya mengandung kira-kira satu trombosit untuk tiap 20 eritrosit.  Trombosit berasal dari megakariosit  dalam sumsum tulang belakang. 

Trombosit mempunyai sifat mudah menempel pada serat kolagen.  Selama lapisan ini cacat akibat cidera yang luas atau akibat perubahan patologis, trombosit akan melekat pada serat-serat kolagen yang terpapar.  Trombosit yang melekat pada kolagen mengalami perubahan morfologi yag besar, keping-keping ini akan berubah menjadi bulatan-bulatan kecil berduri.  Badan padat menghilang dari sitoplasma dan isinya, khususnya adenosin trifosfat dan serotonin dilepas di luar sel.  Adanya ADP, melalui mekanisme yang tidak diketahui, akan menyebabkan  trombosit menjadi lengket, maka terjadilah efek autokatalitik.  Penempelan trombosit menyebabkan pelepasan ADP, sehingga lebih banyak trombosit yang tiba menjadi lengket dan pada gilirannya melepaskan granula padatnya.  

Fungsi utama trombosit adalah bertugas untuk kerja hemostatik atau untuk pembekuan darah dan mencegah perdarahan.  Trombosit jika terpapar pada zat akan membeku dan jika pembuluh darah terpotong maka trombosit dengan cepat menggumpal dan melekat satu sama lain menjadi fibrin. Masa trombosit yang menggumpal dan fibrin adalah dasar untuk pembekuan. Pada manusia normal jumlah rata-rata trombosit adalah 150.000 sampai 400.000 per mm3 darah.

Peristiwa Pembekuan darah, dimulai dari luka yang diperoleh dari suatu jaringan tubuh.  Trombosit yang menyentuh bagian luka yang kasar akan pecah dan mengeluarkan enzim trombokinase yang dikandungnya.  Trombokinase yang terdapat dalam darah akan mengubah protrombin menjadi trombin.  Protrombin adalah senyawa Globulin, yang larut dan dihasilkan dihati dengan pertolongan vitamin K. Protrombin adalah enzim yang belum aktif sedangkan trombin merupakan enzim yang aktif. Ion kalsium merupakan zat yang mempercepat perubahan tersebut. Trombin mengubah febrinogen menjadi fibrin. Benang-benang fibrinogen adalah protein yang larut dalam plasma darah.

Trombositopenia adalah penurunan jumlah trombosit dalam sirkulasi peredaran darah. Kelainan ini berkaitan dengan peningkatan resiko perdarahan hebat, bahkan bisa terjadi hanya dengan cidera ringan atau perdarahan spontan. Trombositopenia dapat terjadi akibat penyakit otoimun yang ditandai oleh pembentukan antibodi terhadap trombosit. Sebab-sebab terjadinya trombositopenia adalah berbagai obat, infeksi virus dan bakteri tertentu. 


Baca selengkapnya...

Proses Pembentukan Hemoglobin (Hb)

Proses pembentukan (sintesis) hemoglobin telah dimulai dalam tahap eritroblas dan terus berlangsung sampai tingkat normoblas/retikulosit. Meskipun eritrosit yang muda telah meninggalkan sumsum tulang dan masuk kedalam peredaran darah, namun pembentukan hemoglobin tetap berlangsung dalam beberapa hari berikutnya.

Pembentukan hemoglobin berlangsung beberapa tahap dan dapat diiikhtisarkan sebagai berikut :

l). 2 Suksinil-KoA + 2 Glisin membentuk senyawa Pirol

2). 4 Pirol akan membentuk senyawa Protoporfirin IX

3). Protoporfirin IX + Fe2+ membentuk senyawa Hem

4). 4 Hem + Polipeptida membentuk Rantai Hemoglobin (α atau β)

5). Rantai 2α + Rantai 2β membentuk hemoglobin A

Tiap rantai hemoglobin mempunyai berat molekul kira-kira 16000. Rantai hemoglobin ini ada variasi yang sebenarnya ditentukan oleh susunan asam amino dalam peptidanya. Berbagai jenis rantai tersebut dapat digambarkan sebagai rantai alfa (α), rantai beta (β), rantai gamma dan sebagainya. Pada umumnya rantai hemoglobin pada orang dewasa adalah hemoglobin A, dimana merupakan gabungan antara dua rantai alfa dengan dua rantai beta.

Sifat yang penting dari molekul hemoglobin adalah kemampian mengikat oksigen dengan lemah dan secara reversibel. Setiap molekul hemoglobin mengandung empat Hem, oleh karena itu satu molekul hemoglobin mengandung empat atom besi dan dapat mengangkut empat molekul oksigen.

Pengaruh Anemia Terhadap Sistem Peredaran Darah
Kekentalan darah tergantung pada kosentrasi eritrosit dalam darah. Dalam keadaan anemia berat, kekentalan darah dapat menurun sampai 1,5 kali kekentalan air (kekentalan normal darah adalah tiga kali kekentalan air). Menurunnya kekentalan darah akan mengurangi tahanan terhadap aliran darah dalam pembuluh darah perifer, sehingga memperbesar jumlah darah yang masuk kembali ke jantung.

Keadaan ini diperparah dengan terjadinya hipoksia dijaringan tubuh yang menyebabkan pembuluh-pembuluh darah pada jaringan berdilatasi, sehingga lebih meningkatkan jumlah darah yang kembali ke jantung. Peningkatan jumlah darah yang kembali ke jantung akan meningkatkan curah jantung. Jadi salah satu pengaruh utama dari anemia adalah kenaikan beban jantung.


Baca selengkapnya...

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Eritrosit (Sel Darah Merah)

Pembentukan eritrosit dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain : vitamin B12, asam folat, mineral besi (Fe), tembaga (Cu), cobalt (Co), protein, hormon eritropeitin dan kadar oksigen di udara.

Pengaruh Vitamin B12 (Sianokobalamin) Dalam Pembentukan Eritrosit
Vitamin B12 merupakan bahan makanan yang diperlukan oleh seluruh sel tubuh dan pertumbuhan sel jaringan pada umunya. Hal ini karena vitamin B12 berperan dalam sintesis DNA. Karena jaringan yang menghasilkan eritrosit paling cepat pertumbuhan dan proliferasinya, kekurangan vitamin B12 menghambat kecepatan pembentukan eritrosit.

Sel-sel eritroblastik sumsum tulang tidak dapat berproliferasi dengan cepat, sehingga ukurannya lebih besar dari yang bormal dan berkembang menjadi megaloblas yang selanjutnya menjadi makrosit. Kemapuan makrosit hampir sama dengan eritrosit, tetapi sangat fragil, hidupnya sangat singkat. Dapat dikatakan bahwa bila terjadi kekurangan vitamin B12 maka akan menyebabkan terjadinya kegagalan dalam proses eritropoiesis.

Sebenarnya penyebab terbanyak dari kegagalan pematangan eritrosit bukanlah karena kekurangan vitamin B12 pada makanan, tetapi oleh adanya kegagalan penyerapan vitamin B12 dalam saluran pencernaan. Hal ini sering terjadi pada mereka yang menderita penyakit anemia pernisiosa, yang penyebab pokoknya adalah atrofi mukosa lambung, sehingga getah lambung tidak dapat disekresikan secara normal.

Dalam keadaan normal, sel-sel parietal lambung mensekresikan suatu glikoprotein yang disebut faktor intrinsik. Faktor intrinsik akan berikatan dengan vitamin B12 yang ada dalam makanan, sehingga vitamin B12 dapat diabsorpsi dalam usus. Faktor intrinsik sangat diperlukan, karena dengan terikatnya vitamin B12 dengan faktor intrinsik maka vitamin B12 akan terlindungi dari pencernaan oleh enzim-enzim saluran pencernaan. Faktor intrinsik ini akan berikatan dengan reseptor khusus pada membran sel mukosa usus.

Pengaruh Hormon Eritropoeitin Dalam Pembentukan Eritrosit
Eritropoeitin merupakan faktor utama yang dapat merangsang pembentukan eritrosit. Eritropoeitin adalah hormon yang merupakan glikoprotein (berat molekul kira-kira 40.000). Eritropoeitin disebut juga erythropoeitik stimulatimg factor atau homopoeitin, yang terdapat dalam darah sebagai respon terhadap hipoksia (jaringan kekurangan oksigen). Eritropoeitin selanjutnya akan mempertinggi produksi eritrosit samapi keadaan hipoksia tertanggulangi.

Faktor-faktor yang menurunkan oksigenasi pada jaringan sehingga terjadi hipoksia antara lain : volume darah rendah, anemia, hemoglobin rendah, aliran darah tidak baik, dan penyakit paru-paru.

Eritropoeitin sebagian besar (90-95%)  dibentuk didalam ginjal, namun belum diketahui dengan pasti bagian ginjal yang membentuk eritropoeitin tersebut. Dari percobaan-percobaan diduga bahwa eritropoeitin dibentuk oleh sel-sel juxtaglomerulus, yaitu sel-sel yang terletak didalam dinding pembuluh-pembuluh arteriol dekat dengan glomerulus.

Pengaruh Kadar Oksigen Yang Rendah Di Udara Dalam Pembentukan Eritrosit
Pada tempat-tempat yang tinggi, kadar oksigen dalam udara berkurang. Untuk memenuhi keperluan oksigen dalam jaringan, produksi eritrosit haris dipercepat. Tambahan eritrosit dalam peredaran darah baru tampak pada hari ketiga dan kecepatan pembentukan eritrosit yang maksimal dicapai setelah lima hari.

Pengaruh Mineral Besi (Fe), Tembaga (Cu) Dan kobalt (Co) Dalam Pembentukan Eritrosit
Zat besi diperlukan langsung untuk membentuk hemoglobin. Sedangkan tembaga dan kobalt diperlukan sebagai katalisator dalam tahapan-tahapan pembentukan hemoglobin. Misalnya manusia memerlukan  2 mg tembaga per hari dalam makanannya agar permbentukan hemoglobin dapat berlangsunng secara lancer.

Pengaruh Asan Folat (Asam Pteroilglutamat) Dalam Pembentukan Eritrosit
Asam folat diperlukan dalam proses pembentukan DNA.

Pengaruh Asam Amino
Asam amino diperlukan dalam pembentukan hemoglobin.


Baca selengkapnya...

Plasma Darah

Plasma darah adalah bagian darah yang berbentuk cair. Dalam plasma darah terlarut molekul-molekul dan berbagai ion, yang meliputi glukosa sebagai sumber utama energi untuk sel-sel tubuh dan asam-asam amino. Ion-ion yang banyak terdapat dalam plasma darah adalah natrium  (Na+) dan klor (Cl-). Ion-ion dan molekul tersebut akan diedarkan ke seluruh tubuh atau berfungsi untuk membantu peredaran zat-zat lainnya.

Kira-kira 7% plasma darah terdiri dari molekul-molekul protein, yaitu serum albumin 4%, serum globulin 2,7% dan fibrinogen 0,3%. Serum adalah cairan darah yang tidak mengandung fibrinogen (komponen untuk proses pembekuan darah). Protein plasma juga berperan sebagai antibodi.

Antibodi merupakan protein yang dapat mengenali dan mengikat antigen tertentu. Sedangkan antigen merupakan molekul (protein) asing yang memacu pembentukan antibodi Antibodi terbentuk jika ada antigen yang masuk ke dalam tubuh. Antibodi ini berasal dari globulin di dalam sel-sel plasma.

Antibodi bekerja melalui dua cara yang berbeda untuk mempertahankan tubuh terhadap penyebab penyakit, yaitu

1).  Antibodi menyerang langsung penyebab penyakit tersebut, atau

2).  Antibodi mengaktifkan system komplemen yang kemudian akan merusak penyebab penyakit penyakit tersebut.

Antibodi dapat melemahkan penyakit dengan salah satu cara berikut.

a). Aglutinasi, terbentuknya gumpalan-gumpalan yang terdiri dari struktur besar berupa antigen pada permukaanya, bakteri-bakteri, atau sel-sel darah merah.

b). Presipitasi, terbentuknya molekul yang besar antara antigen yang larut, misalnya racun tetanus dengan antibodi sehingga berubah menjadi tidak larut dan akan mengendap.

c). Netralisasi, antibodi yang bersifat antigenic akan menutupi tempat-tempat yang toksik dari agen penyebab penyakit.

d). Lisis, beberapa antibodi yang bersifat antigenik yang sangat kuat kadang-kadang mampu langsung menyerang membrane sel agen penyebab penyakit sehingga menyebabkan sel tersebut rusak.


Baca selengkapnya...

Proses Pembentukan Dan Penguraian Eritrosit (Sel Darah Merah)

Pembentukan Eritrosit
Dalam minggu-minggu pertama dari kehidupan embrio, eritrosit primitif yang berinti dihasilkan dalam kantong kuning telur (yolk sac). Selama tiga bulan kedua (trimester pertengahan) dari kehamilan (gestasi), hati merupakan organ yang utama membentuk eritrosit dan pada saat yang sama eritrosit juga dibentuk di limpa (lien) dan kelenjar limfe (limfe-nodus). Selanjutnya dalam tiga bulan terakhir kehamilan dan setelah lahir, eritrosit semata-mata dibentuk oleh sumsum tulang.

Pada dasarnya semua sumsum tulang membentuk eritrosit sampai usia 5 tahun, tapi pada sumsum tulang panjang (kecuali pada proksimal humerus dan tibia) menjadi sangat berlemak, sehingga pada usia kira-kira 20 tahun sumsum tulang panjang tidak lagi menghasilkan eritrosit. Diatas usia 20 tahun, sebagian besar eritrosit dihasilkan oleh sumsum tulang membranosa, seperti vertebra, sternum, costae dan pelvis.

Ada kalanya sumsum tulang dapat dirangsang oleh berbagai jenis faktor sehingga dapat membentuk eritrosit dalam jumlah yang banyak, demikian pula sumsum tulang yang telah berhenti menghasilkan eritrosit dapat menjadi produktif kembali. Limpa dan hati juga dapat mengaktifkan kembali fungsi hemopoietiknya jika ada rangsangan yang ekstrem dan berkepanjangan yang menghendaki pembentukan eritrosit dalam jumlah yang banyak.

Di dalam sumsum tulang terdapt banyak sel pluripoten stem yang dapat membentuk berbagai jenis sel darah. Sel ini akan terus menerus diproduksi selama hidup manusia, walaupun jumlahnya akan semakin berkurang sesuai bertambahnya usia. Sesungguhnya ada stem sel yang lainyang bersifat unipoten yang hanya mampu membentuk satu jenis sel saja, missal eritrosit atau leukosit. Tetapi cirri-ciri sel-sel unipoten ini sulit dibedakan satu sama lain dan juga dengan sel pluripoten.

Pembentukan eritrosit disebut juga eritropoiesis. Pembentukan eritrosit diatur oleh suatu hormon glikoprotein yang disebut eritropoietin. Sel pertama yang diketahui sebagai rangkaian  pembentukan eritrosit disebut proeritorblas.  Proeritorblas kemudian akan membelah beberapa kali. Sel-sel baru dari generasi pertama ini disebut sebagai basofil eritroblas sebab dapat dicat dengan warna basa. Sel-sel ini mengandung sedikit sekali hemoglobin.

Pada tahap berikutnya akan mulai terbentuk cukup hemoglobin yang disebut polikromatofil eritroblas. Sesudah terjadi pembelahan berikutnya, maka akan terbentuk lebih banyak lagi hemoglobin. Sel-sel ini disebut ortokromatik erotroblas dimana warnanya menjadi merah. Akhirnya, bila sitoplasma dari sel-sel ini sudah dipenuhi oleh hemoglobin sehingga mencapai kosentrasi lebih kurang 34%, maka nukleus akan memadat sampai ukurannya menjadi kecil dan terdorong dari sel. Sel-sel ini disebut retikulosit. Retikulosit berkembang menjadi eritrosit dalam satu sampai dua hari setelah dilepaskan dari sumsum tulang.

Pembentukan eritrosit dipengaruhioleh berbagai faktor, antara lain : vitamin B12, asam folat, mineral besi (Fe), tembaga (Cu), cobalt (Co), protein, hormon eritropeitin dan kadar oksigen di udara.

Penguraian (Destruksi) Eritrosit
Jika eritrosit telah berada dalam sistem sirkulasi, maka dalam keadaan normal umurnya rata-rata 120 hari. Eritrosit yang lebih tua menjadi lebih rapuh. Jika dinding selnya sangat rapuh, maka eritrosit dapat pecah dalam perjalananya melalui pembuluh darah yang sempit. Sebagian besar eritrosit pecah didalam limpa karena terjepit sewaktu melewati pulpa merah limpa.

Hemoglobin yang terlepas dari eritrosit difagositosis dan dicernakan oleh sel-sel makrofag terutama yang terdapat dalam limpa, hati (sel-sel Kupffer) dan sumsum tulang. Besi (Fe) yang lepas diangkut kedalam sumsum tulang untuk membentuk eritrosit baru, atau disimpan dihati dan jaringan lain dalam bentuk ferritrin. Bagian hem-nya diubah sel-sel retikuloendotelium menjadi bilirubin (pigmen empedu).


Baca selengkapnya...

Ukuran Dan Fungsi Eritrosit (Sel Darah Merah) Manusia

Besar Dan Ukuran Eritrosit
Eritrosit (sel darah merah) berbentuk cakram bikonkaf berdiameter kira-kira delapan mikron, tebalnya (bagian yang paling tebal) dua mikron, sedangkan bagian yang ada ditengah-tengah tebalnya satu micron atau kurang. Volume rata-rata eritrosit adalah sebesar 83 mikron kubik. Bentuk eritrosit dapat berubah sewaktu sel ini melewati kapiler darah. Sebenarnya eritrosit dapat dianggap sebagai kantong yang dapat berubah bentuk menjadi berbagai jenis bentuk.

Fungsi Eritrosit
Fungsi utama eritrosit adalah mengangkut oksigen. Dalam eritrosit terdapat hemoglobin (Hb), dan hemoglobin berfungsi mengikat oksigen (HbO2). Disamping itu hemoglobin juga berikatan dengan karbondioksida (HbCO2). Fungsi lain dari eritrosit adalah sebagai penyangga asam basa (acid-base buffer) yang utama dalam tubuh. Eritrosit banyak sekali mengandung enzim karbonat anhidrase yang berfungsi mengkatalis reaksi CO2 + H2O, sehingga meningkatkan kecepatan reaksi beberapa ribu kali lipat. Disamping itu hemoglobin sebagai suatu protein juga merupakan senyawa penyangga asam basa.

Kosentrasi Eritrosit Dalam Darah
Pada laki-laki normal jumlah eritrosit rata-rata 5.200.000 (± 300.000) per milliliter darah, sedangkan pada perempuan yang normal jumlah eritrositnya adalah 4.700.000 (± 300.000). Jumlah eritrosit ini bervariasi pada kedua jenis kelamin dan pada perbedaan umur. Disamping itu variasi jumlah eritrosit juga dipengaruhi oleh ketinggian tempat tinggal seseorang. Hal ini tentu saja berkaitan dengan tekanan parsial oksigen yang berbeda antara daerah yang rendah dengan yang tinggi.

Jumlah Hemoglobin (Hb) Dalam Eritrosit
Eritrosit memiliki kemampuan untuk mengkosentrasikan hemoglobin dalam cairan selnya (stroma) sampai sekitar 34 gram per 100 ml. Jika hematokrit normal yaitu antara 40-45% dan jumlah hemoglobin dalam tiap-tiap sel darah merah normal pula, maka darah seorang laki-laki rata-rata mengandung 16 gram hemoglobin per 100 ml, sedangkan pada perempuan 14 gram. Tiap-tiap gram hemoglobin mampu mengikat kira-kira 1,39 ml oksigen. Karena itu, dalam tiap-tiap 100 ml darah yang normal pada laki-laki dapt mengangkut 21 ml oksigen dan pada perempuan 19 ml oksigen.


Baca selengkapnya...

Fungsi Dan Komponen Penyusun Darah Manusia

Darah manusia memiliki fungsi sebagai medium transfor disamping cairan limfe. Volume darah pada orang dewasa kurang lebih sepertigabelas dari berat tubuhnya. Jaringan darah memiliki fungsi sebagai berikut.

1). Mengangkut material didalam tubuh dari satu organ ke organ lain atau dari satu bagian kebagian tubuh yang lain. Material yang diangkut antara lain zat makanan, gas pernafasan, hormon dan ampas metabolism. Zat makanan diangkut dari usus ke seluruh tubuh. Oksigen diangkut dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh. Ampas metabolism diangkut dari jaringan tubuh ke organ pengeluaran.

2). Mengatur suhu tubuh.

3). Mempertahankan tubuh dari serangan benda asing atau mikroorganisme pengganggu.

4). Mengatur keseimbangan pH cairan dalam tubuh.

5). Menutup luka dengan proses pembekuan darah.

Komponen Penyusun Darah Manusia
Darah manusia tersusun atas komponen cair (yang disebut plasma darah) dan sel-sel darah. Hematokrit (persentase sel-sel dalam darah) normalnya 40-45% dan bagian plasma darah sekitar 60% dari seluruh jaringan darah.

Plasma Darah
Plasma darah terdiri atas air (90%) dan zat-zat yang larut didalamnya (10%). Zat-zat yang larut dalam plasma ada yang bersifat sementara dan zat-zat yang harus selalu ada dalam plasma darah. Zat yang bersifat sementara misalnya zat makanan, hormon, ampas metabolism, gas pernafasan (O2 dan CO2). Sedangkan zat-zat yang harus selalu ada dalam plasma darah terdiri atas :

1). Zat-zat organik, merupakan protein dalam bentuk albumin, globulin dan fibrinogen. Protein darah menyelenggarakan tekanan osmotik koloid sebesar seperduapuluh atmosfer.

2). Zat-zat anorganik, merupakan garam-garam misalnya : NaCl (0,6%), KCl (0,02%), CaCl (0,02%), NaHCO3 (0,2%) dan fosfat hanya sedikit. Garam-garam ini menyelenggarakan tekanan osmotik kristaloid sebesar sepertujuh atmosfer.

Sel-Sel Darah
Sel-sel darah manusia terdiri dari eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih) dan trombosit (keeping-keping darah). Untuk menghitung jumlah sel-sel darah digunakan alat yang disebut hemositometer.


Baca selengkapnya...

Eritrosit (Sel Darah Merah)

Eritrosit merupakan salah satu sel darah yang memiliki peranan penting bagi pengangkutan oksigen ke dalam jaringan dan buffer yang utama dalam tubuh manusia. Pada laki-laki normal jumlah eritrosit rata-rata 5.200.000 (±300.000) per mililiter darah sedangkan pada perempuan yang normal jumlah eritrositnya adalah 4.700.000 (±300.000) per mililiter darah, dengan konsentrasi hemoglobin 34/100 ml dalam cairan selnya. Jumlah eritrosit akan bervariasi karena juga dipengaruhi oleh factor lingkungan usia dll.

Saat embryo, eritrosit dibentuk di dalam yolk sac dan kemudian baru sejak trisemester pertengahan masa kehamilan pembentukannya diambil alih oleh hati, limpa, dan kelenjar limpa. Selanjutnya hanya sum-sum tulang merah yang akan berfungsi membentuk eritrosit ketika kita telah dewasa. Limpa dan hati juga berperan mengaktifkan kembali fungsi hemopoeitik eritrosit jika ada rangsangan yang ekstrem dalam jangka waktu lama yang menghendaki pembentukkan eritrosit dalam jumlah yang banyak.

Eritrosit yang mencapai umur 120 hari dalam keadaan normal akan mengalami dekstruksi. Sebagian sebagian besar eritrosit pecah dalam perjalanannya melalui pembuluh darah yang sempit. Sebagian besar eritrosit pecah di dalam limpa karena terjepit melewati pulpa merah limpa. Hemoglobin yang terlepas dari eritrosit difagosit oleh sel-sel makrophag terutama yang terdapat dalam limpa, hati (sel-sel kuffer), dan sumsum tulang.


Baca selengkapnya...

Cara Kerja Jantung Manusia

Jantung manusia merupakan sebuah organ yang berfungsi di dalam sirkulasi peredaran darah. Jantung bekerja sepanjang kita hidup, karena itu jantung itu sendiri membutuhkan makanan yang dibawa oleh darah. Pembuluh darah yang terpenting dan memberikan darah untuk jantung dari aorta asendens dinamakan arteri koronaria.

Kerja jantung dipengaruhi oleh kerja syaraf yaitu nervus simpatikus untuk menggiatkan kerja jantung dan nervus parasimpatikus ,khususnya cabang dari nervus vagus yang bekerja memperlambat kerja jantung. Jantung dapat bergerak yaitu mengembang dan menguncup yang disebabkan oleh adanya rangsangan yang berasal dari susunan saraf otonom. 

Rangsangan ini diterima oleh jantung pada simpul saraf yang terdapat pada atrium dekstra dekat masuknya vena cava yang disebut dengan nodus sinoatrialis (A.V. Node) kemudian merambat ke otot-otot atrium sehingga otot atrium berkontraksi. Kemudian impuls mencapai A.V. Node dimana impuls dari atrium ditunda di A.V. Node selama 0,1 detik sebelum masuk ke ventrikel. Keadaan ini memungkinkan atrium berkontraksi mendahului ventrikel. Dari A.V.node, impuls dirambatkan ke berkas Hiss dan selanjutnya ke serabut purkinje yang menghantarkan rangsangan ke seluruh bagian ventrikel. Dengan demikian seluruh jantung berkontraksi, sehingga sistem inilah yang mengakibatkan denyut jantung berirama (ritmis).

Siklus jantung merupakan periode akhir kontraksi jantung samapai akhir kontraksi berikutnya. Gerakan jantung terdiri dari dua yaitu konstriksi (sistole) dan pengendoran (diastole) konstriksi dari ke dua atrium terjadi secara serentak yang disebut sistole atrial dan pengendorannya disebut diastole atrial. Lama konstriksi ventrikel 0,3 detik dan tahap pengendoran selama 0,5 detik. 

Konstriksi kedua atrium pendek sedangkan konstriksi ventrikel jauh lebih lama dan lebih kuat. Daya dorong ventrikel kiri harus lebih kuat karena harus mendorong darah ke seluruh tubuh untuk mempertahankan tekanan darah sistemik. Meskipun ventrikel kanan juga mempunyai tugas yang sama tetapi tugasnya hanya mengalirkan darah ke sekitar paru-paru ketika tekanannya lebih rendah. Lamanya siklus jantung kurang lebih 0,8 detik, berarti jantung berdenyut 75 – 80 kali dalam setiap menit.

Selama gerakan jantung, dapat terdengar dua macam suara yang disebabkan oleh katup-katup yang menutup. Bunyi pertama disebabkan menutupnya katup atrioventrikel, dan bunyi kedua karena menutupnya aorta dan arteri pulmonary setelah konstriksi dari ventrikel. Bunyi yang pertama panjang (leb) dan yang kedua adalah pendek dan tajam (deb). 

Bunyi denyut jantung jelas terdengar dengan menggunakan stetoskop (auskultasi) pada tempat aorta, tempat pulmonal, tempat trikuspidalis, dan tempat mitral. Getaran suara yang ditimbulkan nadanya rendah dan relatif berlangsung lama, dan dikenal sebagai bunyi jantung pertama, lama bunyi jantung pertama kira-kira 0,14 detik. Bunyi jantung kedua timbul sebagai akibat dari getaran katup semilunaris yang tegang menutup dengan tiba-tiba dan juga dari getaran darah serta dinding arteri pulmonalis dan aorta. Lama bunyi jantung kedua kira-kira 0,11 detik.

Kontraksi jantung dikendalikan oleh sistem saraf otonom. Kecepatan denyut jantung dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu.

1. Pressoreflex jantung : terletak pada lengkung aorta, carotis sinus, dan bagian proksimal vena cava. Jika daerah ini terangsang, dapat menghambat dan mempercepat kecepatan denyut jantung.


2. Faktor Miscellaneus : misalnya panas, dingin, dan sakit dapat mempengaruhi kecepatan denyut jantung.

3. Emosi : misalnya perasaan takut akan memperlambat denyut jantung.

Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi mengalirnya darah kembali ke jantung adalah.
1. Pengaruh diastole atrium, diikuti kontraksi atrium yang mengakibatkan pengurasan darah dari atrium sehingga tekanan dalam vena cepat lebih tinggi dari atrium, sehingga darah mengalir dari vena cava ke atrium dexter.

2. Pergerakan pernapasan membantu darah kembali ke jantung. Jika diafragma berkontraksi,maka tekanan dalam rongga perut bertambah.

3. Kontraksi otot lurik dan gerak valvula semilunaris dari vena. Kontraksi otot lurik akan menekan vena-vena yang halus dalam otot, sehingga tekanan darah naik. Sehingga darah akan cepat mengalir ke jantung. Bila otot relaksasi, maka mengalirnya darah kembali dicegah oleh menutupnya valvula semilunaris vena.

Tekanan darah didefinisikan sebagai kekuatan yang dihasilkan aliran dari darah terhadap setiap luas dari dinding pembuluh (dinyatakan dalam milimeter air raksa (mmHg)) dan diukur dengan menggunakan Spygmomanometer pada lengan atas kanan. Tekanan darah normal orang dewasa adalah 120mmHg (sistole) dan tekanan darah pada saat ventrikel relaksasi (diastole) rata-rata 80mmHg. Selisih antara sistole dan diastole disebut tekanan nadi. Tekanan sistole dapat naik dalam keadaan arterioskleriosis atau klep aorta mengalami insufficiency.


Baca selengkapnya...

Talesemia

Seseorang yang menderita penyakit talasemia sel-selnya tidak mampu mensintesis rantai polipeptida α dan β dalam jumlah yang mencukupi untuk membentuk hemoglobin sehingga sistem hemopoesis menanggapi dengan membentuk makrosit dengan kadar Hb yang rendah atau membentuk mikrosit yang rapuh. Seseorang yang menderita talasemia memiliki wajah yang pucat akibat anemia yang parah dan terjadi perubahan bentuk tulang muka yaitu penonjolan tulang dahi, jarak antara kedua mata jauh, dan terjadi penonjolan tulang pipi.

Penyakit talasemia sampai saat ini belum bisa disembuhkan. Pengobatan yang dilakukan selama ini hanya mampu memperpanjang umur seseorang yang memiliki penyakit talasemia.

Adapun cara yang dilakukan untuk mencegah dan mengobati talasemia adalah :
1). Menghindari perkawinan pasangan yang membawa gen talasemia.

2). Transfusi darah secara teratur, biasanya dilakukan empat kali dalam sebulan.

3). Cangkok sumsum tulang. Cangkok sumsum tulang sebaiknya dilakukan sejak dini sebelun penderita mendapatkan banyak tranfusi darah, semakin sering transfusi darah dilakukan maka kemungkinan penolakan terhadap jaringan sumsum tulang donor.

4). Mengkonsumsi obat yang dapat menetralisir zat besi dalam darah. Penumpukan zat besi dalam darah dapat menyebabkan pembengkakan pada hati, kerusakan ginjal dan paru-paru.


Baca selengkapnya...

Leukimia

Leukimia adalah suatu penyakit yang ditandai oleh meningkatnya jumlah  leukosit abnormal yang ada dalam darah. Leukemia disebabkan oleh mutasi yang mengarah kanker dari sel mieogenosa dan  sel limfogenosa. Sel mieogenesa dan sel limfogenesa memproduksi sel-sel yang bersifat kanker kemudian menyebar ke seluruh tubuh. 

Seseorang yang menderita leukemia mengalami pergantian sumsum tulang yang normal oleh sel-sel leukimia sehingga penderita mengalami infeksi, anemia berat, dan pendarahan akibat kekurangan trombosit. Pertumbuhan sel leukemia yang sangat pesat memerlukan banyak bahan makanan terutama asam amino dan vitamin sehingga energi penderita sangat berkurang akibatnya jaringan lain bertambah lemah. 

Penderita leukemia akan meninggal setelah mengalami kelaparan metabolisme yang cukup lama. Leukima dapat disembuhkan. Semakin dini kanker ditemukan maka semakin besar kemungkinan leukemia dapat disembuhkan.  Leukemia dapat diobati dengan kemoterapi, penyinaran, dan dengan transplantasi bone marrow atau sumsum tulang.


Baca selengkapnya...

Anemia

Pengertian Anemia:
Anemia berarti kekurangan eritrosit (sel darah merah). Anemia juga dapat berarti menurunnya jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin dalam darah.

Macam Anemia :
Anemia ada empat macam yaitu :
1). Anemia hemorhagik  : Anemi hemorhagik disebabkan oleh pendarahan, sehingga tubuh kehilangan eritrosit secara besar-basaran. Pendarahan dapat disebabkan oleh luka besar, luka lambung, infeksi cacing tambang, dan pendarahan besar-besaran pada saat menstruasi. 

2). Anemia aplastik : Anemia aplastik disebabkan oleh perusakan sumsum tulang merah sehingga dapat mengakibatkan fungsi sumsum tulang merah berkurang. Misalnya terjadi pada seseorang yang terpapar radiasi energi tinggi dengan dosis tinggi dan waktu yang cukup lama, obat-obatan, zat kimia, atau toksin.

3). Anemia megaloblastik : Anemia megaloblastik disebabkan disebabkan karena kekurangan vitamin B12, asam folat dan faktor intrisik lainnya dari mukosa lambung.

4). Anemia hemolitik. : Anemia hemolitik berasal dari kata hemolisis yang berarti rusaknya membran eritrosit pada saat melalui kapiler terutama sewaktu melalui limpa. Keadaan eritrosit yang abnormal ini sebagian besar disebabkan oleh faktor keturunan. Anemia hemolitik dapat dibedakan menjadi beberapa macam yaitu :

a). Sferositosis herediter : Anemia yang disebabkan oleh ukuran eritrosit yang sangat kecil dengan bentuk yang lebih spheris daripada bentuk bikonkaf. Sel ini mudah pecah pada saat melewati kapiler limpa.

b). Anemia sel bulan sabit : Merupakan penyakit yang diturunkan dan diderita oleh 1% -2% populasi orang kulit hitam. Anemia jenis ini dijumpai 0,3% sampai 1,0% pada orang-orang berkulit hitam di Afrika Barat dan di Amerika. Eritrositnya ternyata mengandung tipe hemoglobin S (HbS) yang disebabkan oleh adanya susunan rantai beta yang abnormal pada Hb tersebut. HbS akan mengendap dan mengkristal pada kadar oksigen rendah sehingga merusak membran eritrosit. Gejala yang ditimbulkan berupa anemia berat dan infarksi (matinya jaringan) dari organ vital.

c). Talasemia atau Anemia Cooley : Merupakan anemia herediter, dimana sel-selnya tidak mampu membentuk rantai polipeptida α dan β dalam jumlah yang mencukupi untuk membentuk hemoglobin. Sistem hemopoiesis akan membentuk eritrosit yang besar dengan Hb yang sedikit atau mikrosit yang rapuh sehingga mudah pecah.

d). Eritroblastosis fetalis : Anemia jenis ini disebabkan oleh pembentukan antibodi yang berasal dari darah ibu yang mempunyai resus negatif jika fetus yang dikandungnya mempunyai resus positif, sehingga eritrosit fetus menjadi rapuh. Keadaan ini mengakibatkan bayi yang dilahirkan menderita anemia yang parah

Faktor-faktor Penyebab Anemi
1). Pendarahan : Anemi yang disebabkan oleh pendarahan sering disebut dengan anemi hemorhagik, dimana tubuh kehilangan eritrosit melalui pendarahan. Pendarahan dapat disebabkan oleh luka besar, luka lambung, dan pendarahan besar-besaran pada saat menstruasi. 

2). Kerusakan pada sumsum tulang merah : Perusakan sumsum tulang merah dapat mengakibatkan fungsi sumsum tulang merah berkurang sehingga terjadi anemia aplastik. Misalnya terjadi pada seseorang yang terpapar radiasi energi tinggi dengan dosis tinggi dan waktu yang cukup lama, obat-obatan, zat kimia, atau toksin.

3). Kegagalan pematangan eritrosit : Kegagalan pematangan eritrosit disebabkan karena kekurangan vitamin B12, asam folat dan faktor intrisik lainnya dari mukosa lambung.

4). Faktor keturunan : Pada orang-orang di daerah tertentu memiliki gen yang menyebabkan eritrosit menjadi abnormal misalnya, eritrosit bulan sabit yang mudah pecah jika melewati pembuluh darah yang sempit. Eritrosit yang rapuh ini dapat diturun kepada generasi berikutnya.

Pencegahan Anemia :
a). Mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi seperti sayuran, daging terutama daging bebek dan lain-lain. 

b). Mengkonsumsi makanan yang dapat membantu penyerapan zat besi seperti apel, nenas, jeruk, sayuran dan lain sebagainya.

c). Mengurangi konsumsi teh atau kopipada saat makan  karena jika diminum dengan dosis berlebihan maka zat tanin yang terdapat pada teh dan kopi dapat menghambat penyerapan zat besi oleh tubuh.

d). Menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya untuk mencegah penyakit infeksi oleh cacing yang dapat menyebabkan anemia.

Pengobatan Anemia :
1). Tranfusi darah, tranfusi darah biasanya dilakukan untuk mencegah anemia hemolitik khususnya talasemia. Taranfusi darah dilakukan  secara teratur yaitu empat kali dalam sebulan.

2). Transplan sumsum tulang : Transplan sumsum tulang dilakukan untuk mengganti sumsum tulang yang rusak akibat radiasi, obat-obatan dan lain-lain.

3). Mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi


Baca selengkapnya...