Vaksin HIV (Human Immunodeficiency Virus) Eksperimental

HIV merupakan anggota familia retrovirus yaitu virus berselubung yang mempunyai ensim reverse transcriptase, enzim yang mampu mensintesis kopi DNA dari genom RNA. Bagian paling infeksius dari virus HIV adalah selubung glikoprotein gp 120 (BM 120.000 kd) dan gp 41 (BM 41.000 kd) yang sangat berperan pada ikatan HIV dengan sel hospes pada proses infeksi.

Mekanisme utama infeksi HIV adalah melalui perlekatan selubung glikoprotein virus (gp 120) pada molekul CD4, yang merupakan reseptor permukaan dengan afinitas paling tinggi terhadap selubung virus tersebut. Partikel virus HIV yang telah berikatan kemudian masuk ke dalam sel hospes melalui fusi antara membran virus dengan membran sel hospes dengan bantuan gp 41, yang terdapat pada permukaan membran virus.

Meskipun belum ditemukan vaksin HIV yang benar-benar efektif dan aman untuk manusia, namun beberapa tipe vaksin HIV telah diuji secara eksperimental, di antaranya; vaksin utuh yang diinaktivasi, virus rekombinan hidup, virus yang dilemahkan, peptida sintetik dan antibodi anti idiotip.

1). Virus utuh yang diinaktivasi
Inaktivasi virus HIV tipe I dan SIV (Simian Immunodeficiency Virus) dilakukan dengan radiasi dan menambahkan formaldehid. Prosedurnya sama dengan vaksin polio yaitu inaktivitasi genon retrovirus dan melepaskan gp 120 dari selubung virus HIV tipe I dan SIV non infeksius tersebut digunakan sebagai vaksin, dan telah dilakukan uji fase I pada tahun 1988-1989.

2). Selubung glikoprotein yang diklon
Beberapa peneliti telah melakukan teknologi rekayasa genetika untuk mengklon gen gp 120 atau gen gp 160 untuk menghasilkan sejumlah besar gp 120 dan gp 160 yang digunakan untuk imunisasi. Vaksin dari klon gp 160 yang pertama telah diuji pada bulan September 1987 pada 140 sukarelawan seronegatif yang sehat, dan ternyata antibodi yang ditimbulkan dapat menghambat replikasi virus secara in vitro, akan tetapi hambatan ini bersifat spesifik terhadap strain virus yang digunakan.

Uji klinis fase I vaksin gp 120 hasil rekayasa genetika dilakukan pada tahun 1993. Satu keterbatasan vaksin ini adalah merupakan glikoprotein terlarut yang diproses sebagai antigen eksogen, oleh karena itu tidak cukup merangsang respon sel T sitotoksik (sel T CD8+). Untuk merangsang sel T sitotoksik yang spesifik terhadap gp 120 atau gp 160, maka antigen harus diproses dan dipresentasikan oleh molekul MHC kelas I.

3). Virus yang dilemahkan
Vaksin virus yang dilemahkan dibuat dengan menumbuhkan virus hidup pada kondisi kultur yang tidak biasa, sehingga merangsang virus untuk bermutasi supaya tetap hidup pada kondisi yang baru. Kebanyakan vaksin virus yang digunakan saat ini adalah virus yang dilemahkan.

Karena virus ini hidup, maka dapat menginfeksi sel dan tumbuh dalam waktu yang terbatas sampai respon imun mampu menghilangkan virus tersebut. Vaksin virus yang dilemahkan cenderung menghasilkan respon sel memori yang baik yang akan memberikan imunitas jangka panjang.

4). Virus rekombinan yang membawa gen HIV
Vaksin vektor rekombinan merupakan pendekatan lain dalam upaya mendapatkan vaksin AIDS yang efektif. Virus vaccinia dan virus polio Sabin dapat direkayasa untuk membawa gen HIV tipe 1, sehingga virus tersebut kemudian dapat digunakan sebagai vaksin. Karena virus rekombinan ini dilemahkan dan tidak diinaktifkan, maka dapat menginfeksi sel hospes dan diharapkan dapat merangsang aktivitas sel T sitotoksik.

Seperti vaksin virus yang dilemahkan lainnya, paparan yang lama terhadap antigen virus cenderung merangsang respon imun yang baik tanpa perlu tambahan booster. Sejumlah gen HIV yang bisa direkayasa pada virus vaccinia adalah gen env, tat, pol dan gag.

5). Molekul CD4 yang diklon
Sejumlah laboratorium telah berhasil mengklon molekul CD4 dan menggunakan sebagai vaksin untuk menghambat infeksi HIV. Karena gp 120 berikatan dengan molekul CD4 dengan afinitas yang tinggi, maka diharapkan molekul CD4 terlarut ini dapat berikatan secara efektif dengan gp 120 HIV, sehingga dapat menghambat ikatan virus dengan sel hospes. Percobaan secara in vitro menunjukkan bahwa molekul CD4 terlarut selain dapat menghambat ikatan HIV dan infeksi sel limfosit T, juga menghambat pembentukan sinsitia (sel rekayasa multinuklear).

6). Antibodi anti-idiotip
Pendekatan vaksin yang sangat baik adalah dengan antibodi anti-idiotip yang bersifat spesifik terhadap antigen binding-site (paratop) dari antibodi anti HIV. Pendekatan ini dapat digunakan apabila vaksin virus yang dilemahkan atau dimatikan memberikan efek samping yang tidak diharapkan atau tidak dapat diatasi.

Apabila antibodi anti-idiotip ini diberikan pada hewan percobaan, maka hewan tersebut akan membuat antibodi terhadap bindingsite pada antibodi antiidiotip tersebut, yang disebut sebagai antibodi anti-idiotip yang dapat berikatan dengan antigen asal. Dengan demikian hewan percobaan tersebut menjadi kebal terhadap antigen tanpa
terpapar antigen, hanya terpapar antibodi anti-idiotip.

Vaksin yang diusulkan saat ini adalah kombinasi vaksin subunit yang berasal dari selubung virus HIV dan vaksin vektor rekombinan hidup. Kombinasi vaksin tersebut diharapkan dapat merangsang respon antibodi dan menimbulkan respon sel T sitotoksik (CTL). Pendekatan ini dikenal sebagai prime boost yaitu vektor rekombinan yang merangsang respon imunitas seluler awal dan vaksin subunit sebagai booster yang merangsang respon antibodi.

Di beberapa negara yaitu Amerika Serikat, Karibia dan Brasilia akan dilakukan uji fase III vaksin HIV, yaitu vaksin canarypox ALVAC dan gp 120 sebagai vaksin kombinasi. Vaksin rekombinan canarypox ALVAC mengandung gen, gag, env dan komponen protease yang mampu menimbulkan aktivitas CTL terhadap target isolat dan terhadap sel yang diinfeksi berbagai sub tipe HIV tipe 1. Tujuan uji fase III ini untuk mengetahui tingkat aktivitas CTL dan antibodi yang dicapai untuk mencegah infeksi HIV dan mengurangi penyakit.

Disadur Dari : Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001

Baca selengkapnya...

Kendala Pengembangan Vaksin HIV (Human Immunodeficiency Virus)

HIV merupakan anggota familia retrovirus yaitu virus berselubung yang mempunyai ensim reverse transcriptase, enzim yang mampu mensintesis kopi DNA dari genom RNA. Bagian paling infeksius dari virus HIV adalah selubung glikoprotein gp 120 (BM 120.000 kd) dan gp 41 (BM 41.000 kd) yang sangat berperan pada ikatan HIV dengan sel hospes pada proses infeksi.

Mekanisme utama infeksi HIV adalah melalui perlekatan selubung glikoprotein virus (gp 120) pada molekul CD4, yang merupakan reseptor permukaan dengan afinitas paling tinggi terhadap selubung virus tersebut. Partikel virus HIV yang telah berikatan kemudian masuk ke dalam sel hospes melalui fusi antara membran virus dengan membran sel hospes dengan bantuan gp 41, yang terdapat pada permukaan membran virus.

Salah satu upaya untuk mencegah infeksi HIV dan mengurangi penyakit adalah dengan mengembangkan vaksin yang efektif dan aman. Untuk itu diperlukan pengetahuan tentang beberapa hal yaitu : agen yang infeksius, karakterisasi respon imun terhadap agen tersebut dan determinasi apakah respon imun yang ditimbulkan tersebut cukup protektif. Selain itu vaksin yang dibuat harus dites pada hewan yang sesuai untuk memastikan bahwa vaksin tersebut aman.

Vaksin juga harus melalui tiga fase uji klinis pada manusia yaitu fase I dan II dilakukan untuk mengevaluasi keamanan, dosis dan imunogenitas vaksin, sedangkan fase III dilakukan untuk mengetahui efektivitas vaksin

Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengembangkan vaksin HIV, namun sampai saat ini belum ditemukan vaksin HIV yang benar-benar efektif dan aman. Kandidat vaksin HIV dari virus hidup yang dilemahkan belum memberikan hasil yang baik dan aman pada hewan percobaan, meskipun pada penyakit lain jenis vaksin tersebut memberikan hasil yang memuaskan. Pembuatan vaksin HIV dari virus yang dimatikan mengalami kesulitan terutama dalam menginaktivasi virus tersebut tanpa membuka selubung glikoprotein.

Beberapa kendala yang menghambat pengembangan vaksin HIV adalah :

1). Belum diketahuinya tipe respon imun yang protektif terhadap HIV apakah respon imun humoral atau seluler. Pada infeksi virus lainnya ternyata respon imun humoral mampu mencegah terjadinya infeksi. Oleh karena itu sebelum mekanisme imunitas protektif terhadap HIV diketahui dengan baik, para peneliti tidak memfokuskan penelitiannya pada satu tipe respon imun saja.

Diketahuinya daerah V3 pada gp 120 (protein permukaan virus) sebagai neutralizing domain mendorong pengembangan vaksin dari selubung virus rekombinan, dengan tujuan untuk merangsang antibodi yang mampu menetralisasi virus. Narnun sayangnya vaksin jenis ini cenderung menghasilkan antibodi yang spesifik terhadap strain virus yang digunakan.

2). Virus HIV selalu mengalami mutasi dan merubah glikoprotein permukaan untuk menghindari respon imun. Seperti halnya virus lain, perubahan antigen merupakan hambatan utama pengembangan vaksin HIV. Tantangan yang dihadapi para peneliti adalah mengembangkan vaksin tunggal atau yang efektif terhadap perubahan antigen pada strain virus HIV.

3). Transimisi seksual merupakan cara penularan virus HIV yang penting, oleh karena itu perlu dicegah penularan virustersebut melalui permukaan mukosa. Strategi pengembangan vaksin yang merangsang imunoglobulin A (IgA) anti HIV menjadi sangat penting untuk merangsang respon imun anti HIV yang protektif.

4). Tidak dijumpainya respon imun yang efektif terhadap virus HIV. Respon imun yang ditimbulkan dapat menekan virus, tetapi tidak dapat menghilangkan replikasi virus. Peredaran virus melalui jaringan limfoid dan adanya deplesi limfosit T CD4+ secara gradual menyebabkan ketidakmampuan surveilan respon imun.

5). Tidak adanya model hewan percobaan yang sesuai. Simpanse dan kera makaka merupakan model hewan alami untuk infeksi virus HIV tipe 1. Meskipun HIV dapat menyebabkan infeksi yang menetap pada simpanse tetapi tidak menyebabkan defisiensi imunitas.

Pengujian vaksin HIV pada simpanse hanya ditekankan pada adanya hambatan replikasi virus, daripada manifestasi imunodefisiensi. Berdasarkan beberapa peneliltian ternyata mencit yang dibuat imunodefisien (scid-human mice) terbukti dapat digunakan sebagai model hewan percobaan untuk mengetahui mekanisme imunosupresi pada AIDS, untuk evaluasi obat yang potensial dan untuk terapi vaksin.

Disadur Dari : Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001

Baca selengkapnya...

Berbagai Penyakit Degeneratif Akibat Diet Yang Tidak Seimbang

Berikut akan diuraikan beberapa penyakit degenerative yang bisa muncul akibat diet yang tidak seimbang.

Penyakit jantung
Penyakit jantung ada hubungannya dengan ketidakcukupan makanan sehari-hari yang mengandung vitamin E, C, Betakaroten, asam folat, chromium, magnesium, koenzim Q-10.

Artritis
Artritis berkaitan dengan karena kekurangan masukan vitamin E dan selenium, dalam makanan sehari-hari.

Penyumbatan pernbuluh darah
Penyumbatan pembuluh darah dapat dikaitkan dengan homosistein sebagai penyebab penggumpalan darah, karena kekurangan vitamin E, C, B, koenzim Q-10, chromium, asam folat dan kalsium, yang dapat sebagai penyakit penyakit jantung dan stroke.

Katarak
Yang banyak berperan dalam terjadinya katarak ialah kekurangan vitamin E dan C dalam makanan sehari-hari.

Penurunan kekebalan
Dari berbagai penelitian ternyata kekurangan vitamin C, betakaroten, chromium dan seng (Zn) berkaitan dengan terjadinya menurunnya kekebalan.

Kanker
Berbagai radikal bebas yang masuk dalam tubuh sebagai penyebab kanker, berhubungan erat dengan kecukupan masukan vitamin E, betakaroten, vitamin C, asam folat, kalsium dan selenium untuk terjadinya atau perkembangan kanker dalam tubuh.

Diabetes
Terjadinya diabetes ada hubungannya dengan diet yang tidak seimbang dari nutrien khromium, magnesium dan vitamin E. Diet tak seimbang dari khromium telah terjadi sejak rata-rata orang berumur 28 tahun (hanya kecukupan 50%), yang akan menyebabkan menderita diabetes pada umur pertengahan.

Kepikunan
Gejala-gejala psikiatris termasuk kehilangan ingatan, depresi dan dimensia yang banyak terjadi pada lanjut usia, ada hubungannya dengan diet tak seimbang dari vitamin E, B 12, asam folat dan koenzim Q-10. Sesuai dengan teori radikal bebas terjadinya penyakit degeneratif karena kerusakan sel-sel setiap hari yang tak dapat diperbaiki oleh antioksidan (nutrien) sebesar 0,01% akan menumpuk dan menjadi penyebab dari akhir kehidupan, berupa penyakit degeneratif. Proses degeneratif ini dapat dihambat dengan diet seimbang.

(Disadur Dari : Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003)


Baca selengkapnya...

Peranan Vitamin Q Dalam Proses Penuaan Manusia

Vitamin Q atau Koenzim Q-10 atau Ubiquinol-10, terkenal sebagai salah satu antioksidan baru untuk menunda proses penuaan dan mencegah atau mengobati penyakit-penyakit yang berkaitan dengan usia lanjut yaitu penyakit jantung. Vitamin Q adalah enzim, merupakan bahan alami yang dihasilkan oleh tubuh, zat ini ditemukan pula pada makanan tertentu, terutama makanan laut dan sekarang sudah dibuat secara sintetis menjadi suatu zat makanan tambahan untuk kesehatan.

Cara kerja Koenzim Q-10
Koenzim Q-10 serupa dengan vitamin E, melindungi molekul-molekul lemak agar tak teroksidasi radikal-radikal bebas. Koenzim Q-10 memantapkan membran-membran sel. Sejumlah ahli menyatakan bahwa manfaat terbesar diperlihatkan dalam mitokondria di mana oksigen dibakar untuk member tenaga bagi sel hidup. Mudah dipahami mengapa koenzim Q-10 serta antioksidan- antioksidan lainnya berperan penting mencegah proses penuaan. Koenzim Q-10 terkonsentrasi pada sel-sel otot jantung yang membutuhkan sejumlah besar energi agar mampu berdenyut sekitar 100.000 kali perharinya.

Peran koenzim Q-10 dalam proses penuaan
Menurut Balz Frei dari Boston University, koenzim Q-10 mencegah oksidasi kolesterol LDL secara lebih efisien dari pada vitamin E atau betakaroten, tetapi koenzim Q-10 itu habis dengan cepat selama proses oksidasi.

(Disadur Dari : Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003)


Baca selengkapnya...

Peranan Magnesium Dalam Proses Penuaan Manusia

Sekitar 50% magnesium dalam tubuh terikat dalam tulang, hanya 1% berada di luar sel dan sisanya di dalam sel,  kadar normal magnesium dalam plasma antara 1,6-2,1 Mcg. Kira-kira 55% berupa ion bebas, sisanya terikat pada protein. Magnesium dalam sel, plasma dan tulang kurang berkaitan erat. Pada defisiensi, magnesium serum dapat rendah sekali, sedang magnesium dalam tulang normal.

Peran penting magnesium adalah pada reaksi-reaksi yang menyangkut transfer gugus fosfat, yang menyangkut ATP maupun nukleotida lainnya, mengatur pelepasan asetilkolin dan potensial end-plate (berantagonis dengan kalsium), mengurangi pemasukan kalsium oleh otot skelet dan mungkin juga otot polos arteri, stabilisasi struktur makromolekul seperti DNA, RNA, replikasi DNA dan pembentukan molekul-molekul komplek untuk pertumbuhan, perbaikan jaringan, hormon dan protein dan masih banyak peran magnesium yang lain yang berkaitan dengan ribosom, partikel mitra sel, kalsium, antitrombosis, enzim.

Magnesium Menyelamatkan Jantung
Mitokondria, pabrik energi dalam sel makin dirusak karena tiadanya magnesium yang memadai. Kerusakan atas mitokondria sel ini dianggap penyebab nomer satu proses penuaan. Kekurangan asupan magnesium, menyebabkan mudah terserang sakit jantung, menurut kurang lebih 20 studi di seluruh dunia. Magnesium menolong mencegah penggumpalan darah di arteri.

Penelitian oleh Erasmus University Medical School di Rotterdam, pada para wanita tengah baya dan berusia lanjut yang menderita tekanan darah tinggi ringan dan sedang, memberikan tambahan magnesium 485 mg/hari selama 6 bulan menurunkan tekanan darah sistolik 2,7 mm/Hg, distolik turun 3,4 mm/Hg.

Magnesium Mencegah Dan Memperbaiki Diabetes
Studi-studi baru menemukan bahwa kebanyakan penderita diabetes sering memiliki kadar magnesium yang rendah dalam sel-sel dan darah mereka. Robert K. Rude, MD, dari University of Southern California memilih tambahan 300-400 mg sehari lebih disukai dalam bentuk magnesium khlorida untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan diabetes. Kekurangan Mg. Kekurangan magnesium menyebabkan lebih rawan terhadap resistensi insulin. Dalam suatu penelitian pada orang-orang yang sehat, resistensi insulin 25% lebih besar pada diet yang kurang magnesium.

Magnesium Membuat Tulang Tetap Kuat
Menurut Mildred S. Sceling, MD, lektor Nutrisi pada University of North Carolina menyatakan, kadar magnesium yang rendah cenderung disertai kadar vitamin D yang rendah, yang dibutuhkan untuk metabolisme tulang.

Magnesium Memperpanjang Umur
Sebuah studi selama 10 tahun terhadap 2.182 pria di Wales, menemukan bahwa mereka dengan diet berkadar magnesium rendah, mempunyai risiko mati mendadak akibat serangan jantung sebanyak 1,5x lebih besar dibandingkan dengan mereka yang makan magnesium sepertiga lebih banyak.

(Disadur Dari : Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003)


Baca selengkapnya...

Peranan Zink (Zn) Dalam Proses Penuaan Manusia

Peranan Zink dalam proses penuaan berkaitan dengan enzim-enzim yang tergantung zink. Zink berperan dalam sintesis protein baru, menjaga batas nitrogen tubuh, regulasi ekspresi genetik.

Enzim-enzim yang dipengaruhi oleh kecukupan Zink, antara lain DNA, RNA polimerase yang tersangkut dalam sintesa asam nukleat dan protein, alkohol dehydrogenase dalam metabolisme alkohol dan pigmen penglihatan, carbonic anhydrase dalam keseimbangan asam-basa dan pernapasan, delta aminolevulinic acid dehydratase dalam sintesis porfirin, superoksida dismutase dalam menetralisasi superoksida yang dapat merusak jaringan, alkali fosfatase yang membebaskan gugus fosfat.

Peran Zink tidak hanya enzimatis, tetapi juga secara nonenzimatis, misal produksi lipid dalam fraksi mikrosom hepar dapat dihambat dengan memberikan dosis tinggi Zink. Peran lain Zink dalam produksi dan sekresi hormon-hormon trofik hipofise. Dr. Nicola dari Italian National Centre on Aging di Ancona, menyatakan bahwa Zinc menyebabkan kelenjar timus aktif lagi. Dengan demikian memperoleh kembali sistem kekebalan yang dimiliki pada waktu umur 40 tahun.

(Disadur Dari : Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003)


Baca selengkapnya...

Peranan Kalsium Dalam Proses Penuaan Manusia

Penelitian Harvard tahun 1993 pada 3270 wanita sehat (di atas 80 tahun, menyatakan pemberian kalsium 1200 miligram setiap hari ditambah 800 IU vitamin D-3 (Kolekalsiferol) selama 18 bulan, dapat menurunkan kejadian patah tulang panggul sebesar 43%, patah tulang pergelangan lengan dan pelvis 32%, lebih rendah dari pada wanita yang tak mendapatkan tambahan mineral tersebut.

Hal ini berarti kalsium dapat memperpanjang umur, sebab 20% dari wanita tanpa tambahan meninggal karena patah tulang. Menurunkan patah panggul dengan 20% akan menghemat kurang lebih 2 miliar dolar setahun untuk membiayai perawatan kesehatan.  

Tablet-tablet kalsium dapat menurunkan tekanan darah tinggi rata-rata 5-7 mm/Hg (sistolik) dan 3-4 mm/Hg (diastolik) terutama untuk usia lanjut.  Penelitian Margo A Denke, University of Texas South Western Medical Center, menyatakan peningkatan masukan kalsium dari 410 mg/hari menjadi 2200 mg/hari, dapat menurunkan kolesterol LDL sebesar 11%.

(Disadur Dari : Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003)


Baca selengkapnya...

Peranan Khromium (Cr) Dan Selenium (Se) Dalam Proses Penuaan Manusia

Khromium (Cr) : Menurunkan gula darah
Peran khromium dalam menghambat proses penuaan ialah pengaruhnya terhadap hormon insulin di dalam darah. Kekurangan Khromium melemahnya daya kerja insulin sehingga berisiko meningkatkan kadar gula darah. Setiap orang membutuhkan sekurang-kurangnya 200 mikrogram per hari.

Selenium (Se)
Selenium merupakan zat kemopreventif yang ampuh. Selenium menghambat berbagai jenis tumor hingga 100%. Penelitian Will Taylor dari University of Georgia terhadap penderita AIDS, menyatakan selenium dapat menolong melawan virus dan memperpanjang masa hidup penderita AIDS. Lebih lanjut selenium merupakan antioksidan yang penting bagi pembentukan peroksidase glutation, salah satu enzim sangat penting dalam tubuh yang menetralisir radikal-radikal bebas, terutama yang menyerang molekul-molekul lemak.

Penelitian di RRC menunjukkan, penyakit jantung (kardiomiopati) endemis dapat diturunkan angka kesakitannya secara dramatis dengan Na2SeO3. Kadar selenium darah dibawah 45 mg/l, meningkatkan risiko relatif terkena kanker 3,1 kali, setelah variasi konsumsi tembakau, serum kolesterol dan 4 faktor lain diperhitungkan.

(Disadur Dari : Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003)


Baca selengkapnya...

Peranan Beta Karoten Dalam Proses Penuaan Manusia

Beta karoten memiliki beberapa fungsi vital yang ada hubungannya dengan proses penuaan manusia. Uraiannya adalah sebagai berikut :

Beta Karoten Merangsang Kekebalan Tubuh Manusia
Dalam suatu penelitian terhadap 60 pria dan wanita usia lanjut (rata-rata umur 56 tahun), mereka yang menelan beta karoten 30-60 mg/hari selama 2 bulan memiliki sel-sel pembunuh alami lebih banyak, sel-sel T penolong lebih banyak serta limfosit yang lebih aktif. Sel-sel kekebalan semacam itu menolong, melindungi tubuh terhadap kanker serta infeksi virus dan bakteri.

Dr. Simin Meydani dari Tufts University, menemukan bahwa sel-sel pembunuh alami itu, penting terutama untuk melawan kanker. Kajian di Johns Hopkins University menemukan orang-orang yang kadar beta karotennya rendah resikonya 4x lebih besar untuk menderita salah satu jenis kanker yang mematikan akibat merokok.

Beta Karoten Mencegah Serangan Jantung
Studi Harvand University pada 90000 perawat wanita yang menelan beta karoten lebih dari 11000 IU setiap hari, menurunkan risiko penyakit jantung 22%, dibandingkan mereka yang menelan 3800 IU setiap harinya. Pemakan beta karoten yang besar tersebut kejadian stroknya menurun 37%. Dari penelitian skala besar di Eropa menunjukkan bahwa menelan beta karoten dalam jumlah amat kecil berisiko serangan jantung sebesar 260% jika dibandingkan yang makan beta karoten paling banyak.

Peranan Antioksidan Vitamin E, Vitamin C, Beta Karoten Secara Bersama
Studi Harvard University terhadap 87000 perawat wanita menemukan yang memperoleh sejumlah besar vitamin E (lebih 200μ/hari), risiko menderita kardiovaskuler menurun 34%.  Beta karoten dalam jumlah tinggi, menurunkan risiko kardiovaskuler 22%. Masukan vitamin C yang besar menurunkan risiko 20%, pada wanita yang mendapatkan ketiga antioksidan tersebut, risiko kardiovaskuler merosot hampir 50%.

Hal yang sama berlaku untuk stroke, risikonya turun 54%. Ketiga antioksidan tersebut berkeja bersama-sama untuk menghambat oksidasi kolesterol LDL yang menjurus pada pembentukan plak di arteri-arteri.

(Disadur Dari : Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003)


Baca selengkapnya...

Peranan Vitamin C Dalam Proses Penuaan Manusia

Vitamin C memiliki beberapa fungsi vital yang ada hubungannya dengan proses penuaan manusia. Uraiannya adalah sebagai berikut :

Vitamin C Melawan Kanker
Vitamin C merupakan salah satu bentuk vaksinasi melawan kanker, terutama kanker-kanker lambung, esophagus, pankreas, rongga mulut dan kemungkinan mulut rahim, rectum dan payudara.

Makan buah-buahan dan sayur-sayuran lima porsi sehari yang mengandung 200-300 mg vitamin C, cukup untuk menghambat kanker. Tetapi untuk melawan kanker, seseorang yang bernama Dr. Block menelan 2000-3000 mg vitamin C setiap hari.

Vitamin C Menyelamatkan Arteri
Mengkonsumsi vitamin C dalam jumlah sedang, dapat mendorong naiknya kolesterol HDL yang menghambat penyumbatan arteri, mengurangi LDL, menurunkan tekanan darah, memperkuat dinding-dinding pembuluh darah, membuat darah lebih encer. Orang yang mendapatkan vitamin C kurang dari yang terdapat pada sebuah jeruk setiap hari, rata-rata tekanan darah sistoliknya 11 mm/Hg lebih tinggi; selain itu vitamin C menyebabkan arteri-arteri tetap muda, bersih dan lentur.

Vitamin C Meningkatkan Kekebalan Tubuh
Vitamin C 5000 mg setiap hari akan meningkatkan produksi limfosit dan vitamin C 10000 mg sehari akan meningkatkan limfosit itu lebih lanjut. Vitamin C bekerja seperti antibiotika yang memerangi virus-virus. Lebih lanjut vitamin C meningkatkan kekebalan dengan meningkatkan kadar antioksidan glutation di dalam tubuh, zat yang penting agar sistem kekebalan bekerja sebagaimana mestinya.

Lima ratus mg vitamin C setiap hari akan menaikkan glutation dalam sel-sel darah merah sebesar 50%, namun menelan vitamin C hanya sepertiga dari RDA selama 9 minggu akan menyebabkan kadar glutation merosot 50%.

Vitamin C Membalikkan Proses Penuaan Manusia
Vitamin C meremajakan sel darah putih secara kimiawi pada manusia usia lanjut; 120 mg vitamin C setiap hari, mampu menaikkan kadar sel-sel darah putih pada manusia rata-rata umur 76 tahun setara dengan kadar rata-rata 35 tahun, dalam waktu 2 minggu.

Vitamin C Memperbaiki Sperma Dan Mengembalikan Kesuburan Pria
Dalam suatu pengujian di University of California di Berkeley, ditemukan kerusakan akibat radikal bebas terhadap bahan genetik DNA berlangsung 2x lipat pada sel-sel sperma kaum pria yang dibatasi jatah vitamin C nya hanya 5 mg sehari (setara satu sendok teh air jeruk). Ketika kaum pria itu kembali ke diet harian dengan 60 mg atau 250 mg vitamin C, kerusakan spermanya menurun dalam waktu 1 bulan.

Vitamin C Mencegah Penyakit Asma Dan Bronchitis Kronis
Orang yang makan makanan dengan kandungan vitamin C 300 mg sehari, kemungkinan menderita asma atau bronchitis kronis hanya 70% dibandingkan dengan mereka yang memakan kurang lebih 100 mg. Selanjutnya vitamin C menolong mencegah leukosit, sel-sel darah merah, agar tidak menumpuk ke dinding-dinding pembuluh darah.

Vitamin C Melawan Penyakit Gusi
Penyakit periodontal - gusi berdarah, sariawan, lebih umum pada orang-orang yang kadar vitamin C dalam darahnya rendah (Penelitian di Finlandia).

 Vitamin C Mencegah Katarak
Menurut penelitian di Kanada, korban katarak hanya 30% bagi mereka yang telah menelan tambahan vitamin C, dibandingkan dengan mereka yang tidak menelan tambahan vitamin C.

(Disadur Dari : Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003)


Baca selengkapnya...