Tentang Amfibi/Amphibia

Kedudukan Amfibi/Amphibia dalam sistem klasifikasi yaitu:
Kerajaan             : Animalia
Filum                  : Chordata
Upafilum            : Vertebrata
Superkelas          : Tetrapoda
Kelas                  : Amphibia

Adapun morfologi kelas Amfibi/Amphibia yaitu kepala dan badan lebar bersatu, ada dua pasang kaki atau anggota, tak ada leher dan ekor. Kaki katak terdiri atas sepasang kaki depan dan sepasang kaki belakang. Kaki depan terdiri atas lengan atas (brancium), lengan bawah (antebrancium), tangan (manus), dan jari-jari (digiti). Pada kaki belakang terdiri atas paha (femur), betis (crus), kaki (pes) dan jari-jari (digiti).

Anatomi kelas Amfibi/Amphibia yaitu                        
1). Rangka katak tersusun atas endoskeleton yang disokong oleh bagian-bagian yang lunak.Fungsi rangka adalah untuk melindungi bagian-bagian tubuh yang vital, melekatnya otot daging berguna untuk gerak dan berjalan.

2). Sistem otot pada amfibi masih metamerik seperti pada ikan, tetapai tampak tanda-tanda perbedaan. Tubuh katak dan vertebrata lainnya mengandung tiga macam otot daging, yaitu otot daging berserat halus, otot daging jantung, dan otot daging berserat melintang.

3). Jantung amfibi terdiri dari tiga ruang yaitu 2 atrium dan 1 ventrikel. Jantung mempunyai sekat interatrial, kantong ventrikulur, dan pembagian konus arteriosus dalam pembuluh sistemik dan pembuluh pulmonari.

4). Sistem  lymphatic terdiri dari beberapa macam saccus yaitu : Saccus submaxillaris, Saccus pectolaris, Saccus abdominalis, Saccus lateralis, Saccus brachialis, Saccus femuralis, Saccus inter-femuralis dan Saccus cruralis.

5). Sistem pencernaan terdiri atas beberapa alat pencernaan yaitu cavum oris,  pharynx, oesophagus, ventriculus, intestinum dan di akhirin oleh anus.

6). Respirasi adalah suatu proses penyediaan oksigen bagi tubuh. Sistem ini terdiri atas paru-paru (pulmo) dan cutan (kulit), serta lapisan rongga kulit.

7). Sistem urogenital disebut sebagai suatu sistem gabungan karena masing-masing sistem masih tergabung pada kloaka sebagai muara bersama baik untuk sistem ekskresi maupun untuk sistem reproduksi, dan kecuali untuk feses. Terdiri dari organon uropetricum dan organon genitalis. Organon genitalis terdiri dari organon genitalis masculinus dan organon genitalis feminus.

8). Sistem saraf terdiri atas sistem nervorum central dan sistem nervorum periforium.

9). Sistem indra terdiri dari beberapa organ seperti lingua, organon visus Saccus nasalis, telinga.
10). Sistem endokrin terdiri dari beberapa glandula yang menghasilkan hormone tertentu yaitu glandula pituitari atau glandula hypophysa, glandula thyroidea, kelenjar pancreas, glandulae supra renalis atau glandulae adrenalis

Karakteristik kelas Amfibi/Amphibia yaitu Kulit amphibi berfungsi dalam  respirasi dan proteksi. Pada kulit amphibi terdapat kelenjar kulit yang terbagi atas dua macam yaitu: Glandulae mucosa (kelenjar lendir ) yang menghasilkan lendir bening untuk  memudahkan katak melepaskan diri bila ditangkap. Glandulae toxicon (kelenjar racun) yang  menghasilkan zat racun pada tingkat tertentu  dapat secara efektif mematikan hewan lain.

Pada Amfibi/Amphibia terdapat beberapa macam sel pigmen yaitu Melanophora, Lipophora dan Guanophora.. Pergantian kulit pada amphibi terjadi secara periodic dan berbeda-beda tiap spesies. Amphibia memiliki dua pasang tungkai yang terjadi variasi oleh karena adaptasi untuk hidup di darat, air, arboreal (hidup di atas pohon)dan di bawah tanah………dst)


Baca selengkapnya...

Sistem Sirkulasi Amfibi/Amphibia

Fungsi yang terpenting dari sistem sirkulasi Amfibi/Amphibia yaitu:
1). Mengangkut oksigen dan karbon dioksida antara alat pernafasan dengan jaringan-jaringan di seluruh tubuh.
2). Mengangkut zat makanan dan air dari tractus digestivus ke organ lain.
3). Mengangkut persediaan zat makanan dari satu tempat ke tempat lain.
4). Mengangkut sisa-sisa zat organik dan garam mineral yang sudah tidak berguna lagi ke alat ekskresi (ren).
5). Mengedarkan hormon dari kelenjar endokrin ke tempat-tempat yang membutuhkan.

Jantung amfibi terdiri dari tiga ruang yaitu 2 atrium dan 1 ventrikel. Sebagian besar amfibi mempunyai problem untuk mengisi jantung yang menerima darah oksi dari paru-paru dan darah deoksi yang tidak mengandung oksigen dari tubuh. Untuk mencegah banyaknya pencampuran dua jenis darah tersebut, amfibi telah mengembangkan ke arah sistem sirkulasi transisional. Jantung mempunyai sekat interatrial, kantong ventrikulur, dan pembagian konus arteriosus dalam pembuluh sistemik dan pembuluh pulmonari.

Darah dari tubuh amfibi/amphibia masuk ke atrium kanan dari sinus venosus kemudian masuk ke sisi kanan ventrikel, dan dari sini dipompa ke paru-paru. Darah yang mengandung oksigen dari paru-paru masuk ke atrium kiri lewat vena pulmonalis kemudian menuju sisi kiri ventrikel untuk selanjutnya dipompa menuju ke seluruh tubuh. Beberapa pengecualian terjadi pada salamander yang didak mempunyai paru-paru, di mana celah interatrial tidak lengkap dan vena pulmonalis tidak ada..............dst)


Baca selengkapnya...

Sistem Rangka Dari Kelas Amfibi/Amphibia

Rangka dari anggota kelas Amfibi/Amphibia dalam hal ini diwakili oleh katak, rangka katak tersusun atas endoskeleton yang disokong oleh bagian-bagian yang lunak. Fungsi rangka adalah untuk melindungi bagian-bagian tubuh yang vital, melekatnya otot daging berguna untuk gerak dan berjalan. Pada fase cebong (berudu) tulang-tulang masih lunak.Kemudian pada fase dewasa menjadi keras. Tapi pada sambungan-sambungan tulang masih tetap lunak dengan permukaan yang licin.Tempurung kepala,vertebrae dan sternum merupakan skeleton axiale sedang kaki merupakan skeleton appendiculare.

Tempurung kepala yang besar serta pipih terdiri atas:
1. Cranium yang sempit
2. Beberapa pasang kapsula sensoris dari hidung kapsula pendengar dan kapsula yang besar untuk mata.
3. Tulang-tulang rahang, os hyoid dan tulang rawan dari larynx (skleton viseral).

Kelas amphibi merupakan Vertebrata yang pertama mempunyai sternum (tulang dada) tetapi perkembangannya kurang sempurna. Tulang iga hanya pendek dan  kurang berkembang sehingga tidak berhubungan dengan sternum seperti yang terjadi pada reptil, burung atau mamal. Sebagian besar amfibi mempunyai dua pasang tungkai dengan empat jari kaki pada kaki depan dan lima jari kaki belakang.Jumlah jari mungkin ada yang berkurang seperti pada salamander, dan pasangan tungkai tidak ada pada Caecillia.Tungkai biasanya tidak mempunyai kuku, tapi ada semacam tanduk pada jari-jarinya.

Tulang punggung yang bersambung dengan kepala dan extrimitas berfungsi menyokong tubuh dan melindungi sumsum, terdiri atas 9 columna vertebralis dan urostyl, yang merupkan silindris, masing-masing vertebrae merupakan satu segmen pendek yang fleksibel seperti vertebrae lainnya. Tiap-tiap vertebrae terdiri atas centrum atau corpus yang memiliki lengkung atas (archus neuralis) sebagai tempat sumsum.Sebelah atasnya terdapat cuatan neuralis terdapat sepasang processus articularis yang menyebabkan vertebrae dapat sedikit bergerak; tidak memunyai tulang rusuk (costale).

Tempat tumpuan extemitas anterior berupa cingulum cranialis (pectoral gridle) yang berbentuk sebagai rangka yang melingkari alat-alat dalam thorax. cingulum cranialis melekat pada vertebrae dengan otot daging. Masing-masing setengahnya terdiri atas tulang rawan lebar. Supra scapula sebelah dorsal, scapula kecil sebelah lateral dan clavicula yang silindris dan coracoid yang lebar sebelah ventral. Coracoid bergabung dengan sternum yang berupa tulang rawan besar, tersusun atas episternum, omosternum,mesosternum,xiphisternum.Pada sternum bertemulah os scapula dan carocoid, dan terbentuk mangkok cavitalis glenoidalis yang merupakan sendi tempat kepala os humerus.

Tumuan extemitas posterior berupa cingulum posterior (pelvic gridle) merupakan persatuan tulang yang mempunyai bentuk yanng terdiri atas os illium sebelah anterior, os oschium sebelah posterior dan os pubis sebelah ventral. Pada ketiga tulang tersebut bertemu teerdapat mangkokan yang disebut acetabulum tempat kepala os femur melekat.Tiap-tiap bagian dari sepasang os illium yang merupakan tulang yang memanjang sejajar dengan urostyl dan sejajar dengan sacrum.

Bentuk tulang mempunyai hubungan erat dengan tugasnya.Tulang tempurung kepala bersenyawa, sedang cingulum anterior dengan cingulum posterior merupakan tulang-tulang yang terangkai menjadi satu. Tulang yang bersenyawa tidak dapat digerak-gerakkan terhadap satu sama lain. Pada humerus dan femur terdapat satu hubungan bentuk bola dan mangkokan yang menyebabkan gerak putar. Hubungan engsel terdapat pada siku dan lutut. Gerakan-gerakan itu dimungkinkan oleh adanya otot ligamen dari jaringan ikat.Kecuali itu juga disebabkan oleh otot-otot daging yang dapat memanjang dan memendek, sebagai penggeraknya.

Pada tulang yang panjang dibedakan atas bagian central yang disebut diaphyse sedang kedua ujungnya disebut epiphyse.Pada tulang-tulang yang bersenyawa terdapat hubungan satu sama lain, dan amsing-masing epiphyse dan diaphyse juga terdapat hubungan tidak teratur dan terkunci oleh sutura.Pada katak sutura masih berupa tulang rawan, sehingga tulang itu dapat tumbuh terus.Pada burung dan sebagian besar mamalia, masing-masing sutura menjadi tulang keras pada saat tertentu. Dengan demikian pertumbuhan menjadi lebih besar lagi tidak mungkin terjadi.............dst)


Baca selengkapnya...

Sistem Lymphatica Amfibi/Amphibia

Sistem lymphatica Amfibi/Amphibia terdiri dari banyak pembuluh-pembuluh yang bermacam-macam ukuran meliputi berbagai organ dan sukar dilihat. Pada katak antara kulit dan tubuh terdapat saccus lymphatic yaitu:
1). Saccus submaxillaris
2). Saccus pectolaris
3). Saccus abdominalis
4). Saccus lateralis
5). Saccus brachialis
6). Saccus femuralis
7). Saccus inter-femuralis
8). Saccus cruralis

Sistem lymphaticus Amfibi/Amphibia pada beberapa tempat berhubungan dengan vena tubuh dan antara lain vena vertebralis anterior dan vena illiaca transversa. Kecuali itu terdapat jantung lympha yaitu sebelah caudal, sepasang, di sebelah cranial di sekitar vertebrae cervicalis. Cairan lympha mengandung leukosit dan sedikit eritrosit dan beberapa protein yang melayang dalam darah………dst)


Baca selengkapnya...

Morfologi Amfibi/Amphibia

Kelompok hewan amfibi adalah binatang bertulang belakang berkulit lembab tanpa bulu yang hidup di dua alam. Kebanyakan hewan amfibi pada waktu berupa berudu hidup di air dan bernapas dengan insang. Selanjutnya setelah dewasa hidup di darat dan bernapas dengan paru-paru dan kulit. Hewan amfibi termasuk kelompok hewan berdarah dingin, artinya hewan yang memanfaatkan suhu lingkungan untuk mengatur suhu tubuhnya.

Kepala dan badan  dari Kelas Amfibi/Amphibia lebar bersatu, ada dua pasang kaki atau anggota, tak ada leher dan ekor. Bagian dalam ditutupi dengat kulit basah halus lunak. Pada kepala mempunyai mulut yang lebar untuk mengambil makanan, 2 lubang hidung/ nares externa yang kecil dekat ujung hidung yang berfungsi dalam pernapasan, terdapat sepasang mata yang bulat, dibelakangnya terdapat 2 lubang pipih tertutup oleh membrane tympani yang berfungsi sebagai telinga untuk menerima gelombang suara.

Tiap mata dari Kelas Amfibi/Amphibia mempunyai kelopak mata atas dan bawah, serta di dalamnya mempunyai selaput mata bening membrane nictitans untuk menutupi mata apabila berada di dalam air. Di bagian ujung belakang badan dijumpai anus, lubang kecil untuk membuang sisa-sisa makananyang tak dicerna, urine dan sel-sel kelamin/ telur atau sperma dari alat reproduksi.

Kaki dari Kelas Amfibi/Amphibia (katak) terdiri atas sepasang kaki depan dan sepasang kaki belakang. Kaki depan terdiri atas lengan atas (brancium), lengan bawah (antebrancium), tangan (manus), dan jari-jari (digiti). Pada kaki belakang terdiri atas paha (femur), betis (crus), kaki (pes) dan jari-jari (digiti).

Tubuh dari Kelas Amfibi/Amphibia (katak) bentuknya bilateral simetris, dengan bagian sisi kiri dan kanan equal. Bagian tengah disebut medial, samping/lateral, badan muka depan adalah ujung anterior, bagian belakang disebutujung posterior, bagian punggung atau dorsal, sedang bagian muka ventral. Bagian badan terdiri atas kepala/ caput, kerongkongan/ cervik, dada/ thorax atau pectoral, perut atau abdomen, pantat pelvis serta bagian kaudal pendek.

Pada rongga mulut dari Kelas Amfibi/Amphibia ( cavum oris), dibatasi oleh maxillae (rahang atas), sedangkan dibagian bawah dibatasi oleh mandibula (rahang bawah) dan os hyoid. Pada rongga mulut terdapat lingula yang pipih berpangkal pada dasar sebelah antrior mulut.Pada permukaannya terdapat kuncup perasa dan papil yang dilapisi oleh lendir dan dapat dijulurkan dari belkang ke muka untuk menangkap mangsa.

Pada maxillae dari Kelas Amfibi/Amphibia sebelah luar terdapat denta maxillaris (gigi maxillaris), sedangkan dibelakang maxillae terdapat gigi vormerin yang berfungsi untuk menahan mangsa yang akan ditelan.Dekat denta vomerin terdapat dua lubang nares interna yang berhubungan dengan nares eksterna. Glotis terletak pada medium ventral pharynx sebelah belakang lingula yang merupakan pintu menuju ke pulmo.

Dibelakang masing-masing mata dari Kelas Amfibi/Amphibia, di dekat sudut mulut terdapat ostium pharyngeum dari tuba Eustachii yang menghubungkan cavum oris dengan ruang telinga dalam.Pada katak jantan dari banyak spesies memiliki saccus vocalis (saku suara) yang terbuka disebelah muka dari ostium pharyngeum auditiivae Eustachii. Saku suara ini dapat dikembang kempiskan sehingga menimbulkan suara…….....................…….dst)


Baca selengkapnya...

Kedudukan Klasifikasi Amfibi/Amphibia

Amfibia atau amfibi (Amphibia), umumnya didefinisikan sebagai hewan bertulang belakang (vertebrata) yang hidup di dua alam, yakni di air dan di daratan. Amfibia bertelur di air, atau menyimpan telurnya di tempat yang lembab dan basah. Ketika menetas, larvanya yang dinamai berudu hidup di air atau tempat basah tersebut dan bernapas dengan insang. Setelah beberapa lama, berudu kemudian berubah bentuk (bermetamorfosa) menjadi hewan dewasa, yang umumnya hidup di daratan atau di tempat-tempat yang lebih kering dan bernapas dengan paru-paru.

Adapun ciri-ciri Amfibi/Amphibia adalah sebagai berikut :
1). Alat gerak Amfibi/Amphibia berupa dua pasang kaki dan pada setiap kakinya terdapat selaput renang yang terdapat di antara jari-jari kakinya dan kakinya berfungsi untuk melompat dan berenang.

2). Alat pernapasan Amfibi/Amphibia pada saat masih kecebong berupa insang, setelah dewasa alat pernapasannya berupa paru-paru dan kulit dan hidung amfibi mempunyai katup yang mencegah air masuk ke dalam rongga mulut ketika menyelam.

3). Suhu tubuh Amfibi/Amphibia tidak tetap, berubah-ubah mengikuti suhu lingkungannya (berdarah dingin/poikiloterm).

4). Alat penglihatan Amfibi/Amphibia yaitu matanya mempunyai selaput tambahan yang disebut membrana niktitans yang sangat berfungsi waktu menyelam.

5). Sistem perkembangbiakanya Amfibi/Amphibia dengan cara melepaskan telurnya dan dibuahi oleh yang jantan di luar tubuh induknya (pembuahan eksternal).

6). Jantung Amfibi/Amphibia terdiri dari tiga ruangan yaitu dua serambi dan satu bilik.

Adapun kedudukan amphibia dalam sistem klasifikasi yaitu:
Kerajaan          : Animalia
Filum               : Chordata
Upafilum         : Vertebrata
Superkelas       : Tetrapoda
Kelas               : Amphibia
...........................dst)


Baca selengkapnya...

Sistem Saraf Amfibi/Amphibia

Sistem saraf Amfibi/Amphibia terdiri atas sistem nervorum central dan sistem nervorum periforium.  Dalam Sistem nervorum central terdiri dari encephalon (otak) dan medulla spinalis (nervecord). Encephalon terdapat dalam kotak otak (Cranium). Dari pandangan sebelah dorsal akan tampak dua lobus olfactorius menuju saccus nasalis, dua hemispherium cerebri atau cerebrum kanan kiri yang berbentuk ovoid yang dihubungkan oleh comissura anterior sedang bagian anteriornya bergabung dengan diencephalon medialis.

Di bagian belakang terdapat dua bulatan lobus opticus yang ditumpu otak tengah  (mesencephalon) sebelah bawah dan selanjutnya diikuti oleh cerebellum (otak kecil) yang merupakan bagian kecil. Di belakangnya terdapat bagian yang terbuka sebelah atas yaitu medulla oblongata yang selanjutnya berhubungan dengan medulla spinalis, berakhir di sebelah caudal dengan felium terminale. Diencephalon Sistem Saraf Amfibi/Amphibia mempunyai badan sebelah dorsal yang disebut epiphyse atau glandulae pinealis.

Di bawah diencephalon Sistem Saraf Amfibi/Amphibia terdapat chiasma opticua, yang selanjutnya diikuti oleh infudibulum yang tumbuh keluar sebagai segitiga tumpul dengan hypophyse atau glandulae pituitaria pada posteriornya. Di dalam otak terdapat rongga-rongga yang disebut ventriculus. Cairan cerebrospinalis mengisi ventriculus-ventriculus tersebut dan sekitar otak. Pertukaran zat atau metabolism pada otak dilakukan oleh pembuluh-pembuluh darah arteri dan venulae yang meliputi jaringan permukaan otak.

Otak dan medulla spinalis Sistem Saraf Amfibi/Amphibiadibungkus oleh dua membran yang tebal yaitu duramater yang berbatasan dengan tulang, dan membran halus yaitu piamater yang berbatasan dengan jaringan saraf. System nervorum perivorum terdiri atas nervi Cranialis dan nervi spinalis. Nervi spinalis berpusat pada otak di berbagai lobus.......dst)


Baca selengkapnya...

Sistem Pencernaan Amfibi/Amphibia

Alat pencernaan makanan Amfibi/Amphibia diawali oleh cavum oris dan di akhiri oleh anus. Pada beberapa bagian dari trackus digestoria mempunyai struktur dan ukuran yang berbeda. Mangsa yang berupa hewan kecil yang ditangkap untuk dimakan akan dibasahi oleh air liur. Katak tidak begitu banyak mempunyai kelenjar ludah. Dari cavum oris makanan akan melalui pharynx, oesophagus yang menghasilkan sekresi alkalis dan mendorong makanan masuk ke dalam vetriculus yang berfungsi sebagai gudang pencernaan.

Kontraksi dinding otot ventriculus Amfibi/Amphibia meremas makanan menjadi hancur dan dicampur dengan sekresi ventriculus yang mengandung enzim, yang merupakan katalisator. Enzim yang dihasilkan oleh ventriculus dan intestinum terdiri atas pepsin, tripsin, erepsin untuk protein, lipase untuk lemak. Di samping itu ventrikulus menghasilkan asam klorida untuk mengasamkan bahan makanan. Gerakan yang menyebabkan bahan makanan berjalan dalam saluran disebut gerak peristaltik. Makanan masuk ke dalam intestinum dari ventriculus melalui klep pyloris.

Kelenjar pencernaan Amfibi/Amphibia yang besar ialah hepar dan pancreaticum yang memberikan sekresinya pada intestinum. Hepar yang besar terdiri dari beberapa lobus dan bilus (zat empedu) yang dihasilkan akan ditampung sementara dalam vesica felea, yang kemudian akan dituangkan dalam intestinum melalui ductus Cystecus dahulu kemudian melalui ductus cholydocus yang merupakan saluran gabungan dengan dengan saluran yang dari pankreas. Fungsi bilus untuk mengemulsikan zat lemak. Bahan yang merupakan sisa di dalam intestinum mayor menjadi feses dan selanjutnya di keluarkan melalui anus.

Amfibi darat juga memiliki kelenjar intermaksilari pada dinding mulutnya. Ada beberapa amfibi yang lidahnya tidak dapat bergerak, tetapi sebagian besar bangsa Amfibi mempunyai lidah yang dapat dijulurkan ke luar serta katak dan kodok lidah digulung ke lambung. Usus menunjukkan berbagai variasi. Pada Caecillia menunjukkan ada gulungan kecil dan tidak dibedakan antara usus kecil dan usus besar, pada katak dan kodok terdapat usus yang relatif panjang, menggulung yang membuka kloaka............dst)


Baca selengkapnya...

Organ Indra Amfibi/Amphibia

Perubahan yang terjadi pada lingkungan merupakan rangsangan bagi organon sensoris atau receptor tubuh Amfibi/Amphibia. Organon sensoris mempunyai hubungan dengan nervi sensori yang membawa rangsangan ke pusat (lobos pada otak). Tiap-tiap rangsangan akan merangsang organon sensoris tertentu. Organon visus akan menerima rangsangan yang berupa gelombang sinar, sedangkan reseptor kulit menerima rangsangan yang berupa sentuhan. Pada lingua Amfibi/Amphibia terdapat papil-papil yang berupa tonjolan yang berisi reseptor perasa yang peka terhadap zat-zat kimia yang larut dalam air. Saccus nasalis yang mengandung receptor yang peka terhadap rangsangan yang berupa gas. Telinga yang berisi organon auditorius dan alat kesetimbangan tubuh.

Lensa mata Amfibi/Amphibia tetap dan tidak berubah kecembungannya untuk jarak pandangan yang relative jauh. Kelopak mata kurang bagus bagi yang di air tetapi berkembang bagus pada spesies yang di darat. Kelopak bagian bawah biasanya lebih mudah bergerak daripada bagian atas karena kornea amphibi darat menjadi kering akibat evaporasi, sehingga perlu dibasahi dengan cairan yang dihasilkan oleh kelenjar Harderian. Parietal dan pinael body berfungsi sebagai fotoreseptor, sensitive terhadap gelombang panjang dan intensitas cahaya, berperan dalam termoregulasi dan orientasi arah. Untuk alat pendengaran, salamander dan golongannya tidak mempunyai pendengaran tengah, sedangkan katak dan kodok mempunyai pendengaran tengah dan gendang telinga....................................dst)


Baca selengkapnya...

Kulit Dan Kelenjar Kulit Amfibi/Amphibia

Kulit Amfibi/Amphibia sangat penting dalam respirasi dan proteksi. Pada kulit amphibi terdapat kelenjar kulit yang terbagi atas dua macam yaitu:
1). Glandulae mucosa (kelenjar lendir ) yang menghasilkan lendir bening untuk  memudahkan katak melepaskan diri bila ditangkap.
 2). Glandulae toxicon (kelenjar racun) yang  menghasilkan zat racun pada tingkat tertentu  dapat secara efektif mematikan hewan lain.

Racun yang terdapat pada Amfibi/Amphibia sangat bervariasi. Kodok yang hidup di laut (Bufo marinus) racunnya sangat manjur untuk membunuh anjing. Studi tentang kodok neotropik  dari keluarga Dendrobatidae yang baracun, menunjukkan bahwa racun itu merupakan steroid alkaloid yang berefek pada saraf dan aktivitas otot sel korban. Tipe racun lain pada amphibi adalah neurotoksin, halusinogen, vasokonstriktor, hemolitik,  dan local irritant. 

Kelenjar mukus dan kelenjar racun pada Amfibi/Amphibia dikelompokkan sebagai kelenjar alveolar. Klenjar alveolar adalah kelenjar yang tidak mempunyai saluran pengeluran tetapi produknya dikeluarkan lewat dinding selnya sendiri secara  alami. Akat tetapi ada juga beberapa amphibi yang mempunyai kelenjar alveolar tubular, kelenjar demikian sering ditemukan di ibu jari pada katak dan kodok dan terkadang juga ditemukan di bagian dadanya.

Kelenjar ini menjadi fungsional selama musim reproduksi selama musin reproduksi dan mengeluarkan cairan yang membantu  pejantan dalam melekatkan diri ke betina selama musim kawin, bahkan pada salamander terdapat kelenjar tubular  pada dagu pejantannya yang mengeluarkan cairan khusus untuk menarik  betina selama musim reproduksi……............…dst)


Baca selengkapnya...

Familia Dari Ordo Anura Yang Terdapat Di Indonesia

Ada 5 Famili dari Ordo Anura (class amfibi/amphibian) yang terdapat di indonesia yaitu Bufonidae, Megophryidae, Ranidae, Microhylidae dan Rachoporidae

1). Bufonidae
Famili ini sering disebut kodok sejati. Ciri-siri umumnya yaitu kulit kasar dan berbintil, terdapat kelenjar paratoid di belakang tympanum dan terdapat pematang di kepala. Mempunyai tipe gelang bahu arciferal. Sacral diapophisis melebar. Bufo mempunyai mulut yang lebar akan tetapi tidak memiliki gigi. Tungkai belakang lebih panjang dari pada tungkai depan dan jari-jari tidak mempunyai selaput. Fertilisasi berlangsung secara eksternal. Famili ini terdiri dari 18 genus dan kurang lebih 300 spesies. Beberapa contoh famili Bufo yang ada di Indonesia antara lain: Bufo asper, Bufo biporcatus, Bufo melanosticus dan Leptophryne borbonica.

2). Megophryidae
Ciri khas yang paling menonjol adalah terdapatnya bangunan seperti tanduk di atas matanya, yang merupakan modifikasi dari kelopak matanya. Pada umumnya famili ini berukuran tubuh kecil. Tungkai relatif pendek sehingga pergerakannya lambat dan kurang lincah. Gelang bahu bertipe firmisternal. Hidup di hutan dataran tinggi. Pada fase berudu terdapat alat mulut seperti mangkuk untuk mencari makan di permukaan air. Adapun contoh spesies anggota famili ini adalah Megophrys montana dan Leptobranchium hasselti.

3). Ranidae
Famili ini sering disebut juga katak sejati. Bentuk tubuhnya relatif ramping. Tungkai relatif panjang dan diantara jari-jarinya terdapat selaput untuk membantu berenang. Kulitnya halus, licin dan ada beberapa yang berbintil. Gelang bahu bertipe firmisternal. Pada kepala tidak ada pematang seperti pada Bufo. Mulutnya lebar dan terdapat gigi seperti parut di bagian maxillanya. Sacral diapophysis gilig. Fertilisasi secara eksternal dan bersifat ovipar. Famili ini terdiri dari 36 genus. Adapun contoh spesiesnya adalah: Rana chalconota, Rana hosii, Rana erythraea, Rana nicobariensis, Fejervarya cancrivora, Fejervarya limnocharis, Limnonectes kuhli, Occidozyga sumatrana

4). Microhylidae
Famili ini anggotanya berukuran kecil, sekitar 8-100 mm. Kaki relatif panjang dibandingkan dengan tubuhnya. Terdapat gigi pada maxilla dan mandibulanya, tapi beberapa genus tidak mempunyai gigi. Karena anggota famili ini diurnal, maka pupilnya memanjang secara horizontal. Gelang bahunya firmisternal. Contoh spesiesnya adalah: Microhyla achatina.

5). Rachoporidae
Famili ini sering ditemukan di areal sawah. Beberapa jenis mempunyai kulit yang kasar, tapi kebanyakan halus juga berbintil. Tipe gelang bahu firmisternal. Pada maksila terdapat gigi seperti parut. Terdapat pula gigi palatum. Sacral diapophysis gilig. Berkembang biak dengan ovipar dan fertilisasi secara ekstern...............dst)


Baca selengkapnya...

Warna Tubuh Amfibi/Amphibia

Amfibi/Amphibia sangat beraneka ragam warnanya, hijau terang, kuning, orange, dan emas, sedangkan warna merah dan biru sangat jarang ditemukan. Warna tubuh amphibi disebabkan oleh pigmen atau secara struktural atau dihasilkan oleh keduanya (paduan pigmen dan struktural). Macam chromatophora (sel pigmen) yaitu: Melanophora yang berisi pigmen hitam atau coklat, Lipophora yang berisi pigmen merah atau  kuning, Guanophora yang berisi kristal-kristal putih. Umumnya lipophora terletak di dekat permukaan kulit, lebih ke arah dalam terdapat guanophora dan yang paling dalam terdapat melanophora.

Chromatophora bentuknya agak ameboid dengan prosesus protoplasmik meluas ke luar dari tubuh selnya ke sel lain. Pigmen pada sitoplasma dalam chromatophora mampu berpindah sehingga pigmen dapat terkonsentrasi dan mengumpul untuk menebalkan warna atau terpencar sehingga menipiskan warna. Sel pigmen, khususnya lippphora mampu melakukan gerakan ameboid dan dapat berpindah mendekat atau menjauh dari permukaan kulit. Seringkali perubahan dari hijau ke kuning merupakan hasil kontraksi dari melanophora dan perpindahan lipophora ke posisi di antara atau di bawah guanophora.

Warna pada Amfibi/Amphibia ketika ditempatkan di lingkungan gelap tampak bercahaya, adalah merupakan hasil dari simulasi kelenjar pineal menghasilkan melatonin (sejenis hormon) yang mampu mengurangi kuantitas cahaya atau sinar gelombang panjang.  Kemudian kontak dengan horman kromatotrofik hipofise yang menyebabkan perluasan melanophora sehingga melanophora berkontraksi dan menghasilkan efek tubuh menjadi lebih bercahaya di tempat gelap. Pada katak warna hijau yang dihasilkan merupakan hasil pemantulan secara kimiawi dan struktur mikroskopis pada kulit sebelah luar (tidak ada pigmen hijau)

Pergantian kulit Amfibi/Amphibia
Seluruh kulit Amfibi/Amphibia terlepas secara periodik. Proses ini berlangsung di bawah kontrol hormon. Lapisan kulit luar tidak hanya satu bagian, tidak sebagaimana pada reptil, tetapi dalam fragmen, meskipun tungkai biasanya utuh dan mengelupas secara bersamaan. Frekuensi bergantinya kulit bermacam-macam pada spsies yang berbeda. Pengelupasan kulit pada katak pohon hijau mungkin terjadi setiap bulan atau lebih.………dst)


Baca selengkapnya...