Kajian Tentang Endomikoriza

Endomikoriza sungguh menarik perhatian, karena fungi tidak mungkin untuk berkembang tanpa tumbuhan inang, dan biasanya fungi dari kelompok Zygomycetes. Ini merupakan hubungan hifa fungi yang masuk ke sel kortek tanaman, kemudian tumbuh dalam sel/intraseluler dan membentuk gumpalan (lilitan), sehingga membentuk pembengkakan.

Endomikoriza, tidak membentuk suatu selubung luar tetapi di dalam sel-sel akar (intraseluler) dan membentuk hubungan langsung dengan tanah dan sekitarnya. Hifa jamur memasuki sel tanaman inang karena menerobos jaringan inang. Inang yang terlibat dalam asosiasi endotrofik mungkin termasuk Phycomycetes (memiliki hifa tidak bersekat). Contohnya pada anggrek. Anggrek memiliki endomikoriza. Contoh spesies angrek lain dari genus Neottia, Limodorum, Epipogen, Coralliorhiza, Galeola, Vanilla, Gastrodia, Didymoplexis bergantung dengan jamur, namun hanya dalam tahap awal kehidupannya.

Apabila berkecambah, biji anggrek menjadi terinfeksi oleh hifa dari dalam tanah, setelah penetrasi jamur muncul dalam sel-sek korteks dalam bentuk kumparan, memnyebabkan pembengkakan dan disorganisasi sel-sel dan akhirnya mengalami disintegrasi dalam sel-sel inang. Disintegrasi hifa didalam sel ini juga disebut “tolifopagi” dan “ptiofopagi” yang merupakan cara pencernaan oleh inang yang berbeda-beda. Dan proses ini mungkin terus berlangsung karena sel inang sudah terinfeksi. Infeksi hanya terbatas pada sel-sel korteks akar atau pada bagian system perakaran.

Jamur dapat memecah lignin dan seluosa dan karena ikut menyumbang dalam pembusukan bahan organic. Dalam hal ini, jamur tersebut berbeda dengan jamur ektomikoriza yang tergantung dengan inangnya dalam hal nutrisi karbonnya. Anggrek bergantung pada jamur untuk kebutuhan-kebutuhan awal kehidupannya.

Mikoriza endotrofi dijumpai pada tanaman gandum, jagung, buncis, jeruk dan tanaman komersial lain serta jenis rumput-rumputan tertentu. Terdapat bukti bahwa, pada lingkungan tumbuhan, Mikoriza dapat meningkatkan persaingan antar tubmbuhan tersebut. Pada lingkungan yang basah Mikoriza dapat meningkatkan nutrisi, khususnya ketersediaan fosfat. Sedangkan pada daerah yang kering/gersang, Mikoriza membantu dalam pengambilan air, peningkatan transpirasi, dibandingkan dengan tanpa adanya Mikoriza pada tumbuhan. Dan ini akan memberikan manfaat dalam penggantian energi yang diperlukan untuk fotosintesis tumbuhan……...........dst)


Baca selengkapnya...

Interaksi Jamur Dengan Tanaman Yang Merugikan

Sebagian besar penyakit pada tanaman disebabkan oleh jamur etalen.  Sebagian besar jamur yang menyerang tanaman budidaya adalah jamur karat dan jamur api (Bartha, 1987). Banyak jamur yang beradaptasi dengan baik sebagai etalen tumbuhan. Berikut adalah beberapa contoh interaksi tumbuhan dengan jamur yang merugikan.

Proses infeksi jamur Hemileia vastatrix dimulai dari adanya jamur Hemileia vastatrix yang melekat pada daun dan mulai mengeluarkan hifa untik menginfeksi daun. Hifa-hifa yang dikeluarkan oleh jamur ini terkadang sampai menutup stomata sehingga mengganggu proses fotosintesis.

Busuk akar disebabkan oleh serangan jamur Phytium sp. Busuk akar terjadi karena media tanam terlalu basah dan berkelembaban tinggi. Air yang terlalu lama menggenang menyebabkan media menjadi becek dan dalam waktu singkat menyebabkan akar menjadi busuk, daun menjadi pucat, layu lalu busuk.

Layu Fusarium yang menyerang tanaman cabai dan tomat. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum. Gejala yang ditimbulkan adalah memucatnya tulang daun terutama daun bagian atas kemudian menggulunggnya daun yang lebih tua dan akhirnya layu secara keseluruhan. Menggulungnya daun ini mengakibatkan kemampuan daun menerima cahaya matahari menurun dan berdampak pada laju fotosintesis. Penurunan laju fotosintesis berberdampak pada produktivitas tanaman tersebut (Endah, 2002).

Jamur Fusarium oxysporum menginfeksi melalui akar, utamanya pada luka akar akibat dari  serangan Nematoda puru akar, pemindahan bibit dari penyemaian maupun akibat dari munculnya akar lateral. Jamur ini akan berkembang dan menetap di berkas vaskuler. Jamur ini tidak mengganggu proses trasportasi di berkas vaksuler karena hifa dari jamur ini tidak cukup menyumbat aliran air pada jaringan xylem (Semangun, 2001).

Menurut Gaumann dan Jaag dalam Semangun (2001), penyebab kelayuan adalah dibentuknya polipeptida yang disebut likomarasmin, toksin yang dapat mengganggu permeabilitas membrane. Likomarasmin diangkut dalam badan tumbuhan dengan cepat dan bersifat toksin. Ini mengubah permeabilitas sel terhadap air dan salah satu pengaruhnya yaitu transpirasi tumbuhan yang cepat. Laju traspirasi yang cepat dan tidak mampu diimbangi oleh laju transportasi, maka akan terjadi kelayuan baik secara sementara maupun secara permanen (Sarna dkk, 2007).

Selain itu jamur Fusarium oxysporum juga menghasilkan asam fusarat. Asam fusarat dapat menghambat pertumbuhan kalus dan tunas. Hal ini diduga karena terganggunya permeabilitas membran sel, terhambatnya oksidasi sitokrom dan respirasi pada mitokondria sehingga menghambat sintesis ATP, serta penurunan aktivitas fenol (Purwati, dkk. 2007).

Menurut Waggoner dan Dimond dalam Semangun (2001), F. oxysporum menghasilkan enzim pektolitik, terutaman pectin-metil-esterase (PME) dan depolimerase (DP). PME mereduksi etal dari rantai pectin dan menghasilkan asam pektat. DP memecah rantai asam pektat menjadi poligalakturonida  dengan dengan berbagai berat molekul.enzim tersebut memecah bahan pectin dalam dinding sel pembuluh xylem dan pectin pada parenkim xylem.

Pemecahan bahan pectin dari dinding sel mengakibatkan sel kehilangan kekakuannya sehingga tanaman menjadi layu. Fragmen-fragmen asam pektat masuk ke pembuluh xylem dan membentuk masa koloidal yang mungkin menggandung bahan nonpektin dan dapat menyumbat pembuluh. Penyumbatan oleh fragmen asam pektat dapat menghalangi proses penghantaran air dan nutrisi tanah.

Keadaan ini mengakibatkan tanaman mengalami kekurangan air, terlebih ketika laju transpirasi tinggi. Kekurangan air mengakibatkan tekanan turgor sel menjadi menurun dan menjadikan tanaman layu. Jika tidak segera teratasi, tanaman akan mengalami layu permanen dan mati (Sarna dkk, 2007)…..dst)


Baca selengkapnya...

Kajian Tentang Ektomikoriza

Umumnya ditemukan pada daerah yang agak dingin (beriklim sedang), berasosiasi dengan tanaman khusus dan semak-semak. Contohnya, pohon cemara, oak, dan paling banyak tumbuh pada hutan temperata yang tumbuh pada kondisi dingin biasanya mengandung Ektomikoriza, yang terdiri dari komponen fungi dengan Basidiomycetes, Ascomycetes atau Zygomycetes.

Ektomikoriza tumbuh pada sekitar akar tanaman, terutama pada ujung akar, selanjutnya terjadi penetrasi fungi ke bagian kortek, yang umumnya dijumpai pada jenis kayu cemara atau tanaman berdaun jarum. Pada ektomikoriza, jamurnya seluruhnya menyelubungi masing-masing cabang akar dalam selubung atau mantel hifa. Hifa-hifa tersebut hanya menembus antar sel korteks akar (interselular) (Rao, 1994). Jenis fungi ini adalah Thelophora terrestris.

Banyak dari jamur ini menunjukkan inang spektrum luas. Demikian pula inang yang sama mungkin diinfeksi oleh lebih dari satu jamur seperti misalnya Pinus sylvestris yang dari perakaran mikoriza dapat dipisahkan sebanyak lebih dari 40 spesies fungi.

Lebih dari 5000 spesies fungi Basidiomycetes, banyak di antaranya yang membentuk Ektomikoriza. Miselium secara luas memanjang ke luar sel dan meningkatkan nutrisi tumbuhan. Salah satu fungi yang terpenting pada Ektomikoriza adalah Pisolitus tinctorius. Bila fungi ini diinokulasikan ke dalam akar tumbuhan, pertumbuhannya menjadi lebih cepat, dibandingkan dengan tumbuhan yang tidak diinokulasi fungi tersebut….............................dst)


Baca selengkapnya...

Interaksi Antara Jamur Mikoriza Dengan Akar Tanaman

Mikoriza (Yunani = “Mycorrhizae”) memiliki arti “fungi akar” dan berhubungan dengan bentuk hubungan simbiotik antara fungi dengan akar tanaman, yang pertama kali ditemukan oleh Albert Bernhard Frank, pada tahun 1885. Sebagian besar akar tumbuhan darat kemungkinan berupa Mikoriza. Dalam hubungan ini fungi dan akar tanaman terintregasi membentuk mikoriza. Keduanya mendapat keuntungan dari asosiasi ini. Fungi mendapatkan nutrien organik dari tanaman sedangkan tanaman akan terlindungi dari tanaman patogen lain.

Fungi mikoriza memproduksi substansi allelopathik yang bersifat toksik yang akan menghambat pertumbuhan tanaman di sekitar tanaman tersebut sehingga mengurangi kompetisi. Pada lingkungan yang basah mikoriza dapat meningkatkan nutrisi, khususnya ketersediaan fosfat. Sedangkan pada daerah yang kering/gersang, mikoriza membantu pengambilan air, peningkatan transpirasi (Ristiati, 2008).

Mikoriza merupakan mahluk hidup, maka sejak berasosiasi dengan akar tanaman jamur ini terus berkembang dan selama itu pula berfungsi membantu tanaman. Adanya mikoriza, resitensi akar terhadap gerakan air menurun, sehingga transfer air ke akar meningkat. Keberadaan mikoriza menyebabkan status P tanaman meningkat, sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. Adanya hifa eksternal menyebabkan tanaman bermikoriza lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak bermikoriza.

Pada tanaman bermikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit daripada tanaman yang tidak bermikoriza. Tanaman mikoriza lebih tahan terhadap kekeringan karena pemakaian air yang lebih ekonomis. Pengaruh tidak langsung karena adanya miselin eksternal menyebabkan mikoriza efektif dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air meningkat. Aplikasi mikoriza akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah, sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun.

Kondisi lingkungan tanah yang cocok untuk perkecambahan biji akan mendukung pula untuk perkecambahan spora mikoriza. Jamur mikoriza mempenetrasi epidermis akar melalui tekanan mekanis dan aktivitas enzim dan selanjutnya tumbuh menuju korteks. Pertumbuhan hifa secara eksternal terjadi jika hifa internal tumbuh dari korteks melalui epidermis. Pertumbuhan hifa secara eksternal tersebut terus berlangsung sampai tidak memungkinnya untuk terjadi pertumbuhan lagi. Bagi jamur mikoriza, hifa eksternal berfungsi mendukung fungsi reproduksi serta untuk transportasi karbon serta hara lainnya ke dalam spora, selain fungsinya untuk menyerap unsur hara dari dalam tanah untuk digunakan oleh tanaman.

Interaksi mikroba terhadap tumbuhan dimana ada jenis mikroba dari golongan jamur yang disebut mikoriza ditemukan sebagai sumber biofertilizer potensial yang dapat meningkatkan produktivitas budidaya tanaman. Biofertilizer atau pupuk hayati semacam ini bersifat ramah lingkungan dan dapat mempertahankan kualitas tanah secara berkelanjutan. Mikoriza mempunyai peran dalam mempercepat suksesi pada habitat yang terganggu secara ekstrem.

Mikoriza yang menginfeksi akar tanaman berperan dalam perbaikan nutrisi tanaman dan meningkatkan pertumbuhan, karena hifa yang menginfeksi akar mempunyai kemampuan yang tinggi dalam meningkatkan kapasitas penyerapan unsur hara fosfat, nitrogen, sulfur, seng, dan unsur esensial lainnya. Dengan adanya mikoriza, laju penyerapan unsur hara oleh akar bertambah hampir empat kali lipat dibandingkan dengan perakaran normal, demikian juga luas penyerapan akar makin bertambah hingga 80 kali.

Mikoriza berperan juga sebagai bio-protektor terhadap patogen tanaman, bio-remediator bagi tanah-tanah yang tercemar dan membantu pertumbuhan tanaman pada tanah yang tercemar.  Jamur mikoriza merupakan asosiasi antara tanaman dan cendawan yang memiliki sifat dan peran yang unik bagi tanaman, manusia, dan lingkungan hidup. Asosiasi ini diketahui memiliki fungsi yang menguntungkan tanaman simbionnya…....….dst)


Baca selengkapnya...